Selasa, 24 Juli 2012

hortikultura ciri khas STT SAPPI

BAB 1 PENGANTAR H ortikultura dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang budidaya tanaman secara intensif dan produknya digunakan untuk kebutuhan manusia sebagai bahan sayuran dan buah, bahan obat (tanaman empon-empon), bahan bumbu (tanaman rempah-rempah), bahan penyegar atau penyedap, dan penyaman lingkungan (tanaman hias). Berdasarkan jenis tanaman yang diusahakan, Hortikultura mencakup bidang ilmu buah-buahan (pomology), sayuran (olericulture), bunga dan tanaman hias (floriculture), dan pertanaman (landscape horticulture). Istilah Hortikultura berbeda dengan Agronomi. Menurut letak usahatani, Hortikultura dilakukan sekitar tempat tinggal (kebun) pada areal terbatas, sedang Agronomi dilakukan dalam areal yang lebih luas, memfokuskan pada tanaman pangan seperti padi, jagung, sorgum, kacang-kacangan dan tanaman hijauan pakan ternak. Dalam Hortikultura membutuhkan tenaga kerja yang terampil, modal investasi dan alat yang mahal, biaya pengadaan sarana produksi seperti benih/bibit, pupuk dan pestisida yang relatif tinggi. Pada umumnya produk hortikultura dikonsumsi dalam bentuk segar, sehingga kadar air sangat berpengaruh pada kualitas. Kadar air yang tinggi mengakibatkan hasil produksi tanaman hortikultura tersebut mudah rusak (perishable). Berbeda dengan produk Agronomi yang lebih tahan lama, karena kadar air yang rendah dan kandungan serat yang tinggi. A PROGRAM PENGEMBANGAN HORTIKULTURA DI INDONESIA Dibandingkan dengan komoditas tanaman pangan (terutama padi), pengembangan komoditas hortikultura relatif lambat, mengingat kebijakan Pemerintah lebih ditekankan pada program swasembada pangan (padi/beras). Dengan meningkatnya pendapatan masyarakat, pengetahuan tentang kecukupan pangan dan gizi, dan tingkat kesukaan (preferensi), kebutuhan produk hortikultura terus meningkat. Kondisi tersebut memacu Pemerintah mengembangan komoditas hortikultura untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri (domestik) dan ekspor. Berdasarkan potensi sumberdaya alam dan genetis, Indonesia termasuk negara yang kaya dengan ragam plasma nutfah. Namun potensi tersebut belum semuanya dapat digali dan dikembangkan untuk dimanfaatkan, karena keterbatasan tenaga ahli, sarana dan dana. Berdasarkan potensi tersebut, program pengembangan komoditas hortikultura diprioritaskan pada produk yang bernilai ekonomis tinggi dan berpeluang pasar tinggi (dalam/luar negeri). Komoditas hortikultura untuk mengurangi impor: Buah-buahan : apel, jeruk, anggur Sayuran : bawang merah, bawang putih, kentang Tanaman hias : anggrek, anthurium, krisantemum, gerbera dan anyelir Komoditas hortikultura ekspor (saat ini) Buah : avokad, salak, durian, mangga, rambutan Sayuran : kentang, cabe, kubis, tomat Tanaman hias : dracaena, diffenbachia Komoditas hortikultura berpotensi ekspor Buah : pisang, sirsak, nanas, markisa, pepaya, manggis, duku Sayuran : asparagus, jamur, paprika, pete, rebung Tanaman hias : anggrek, heliconia B WILAYAH-WILAYAH LINGKUNGAN HORTIKULTURA Berdasarkan ketinggian tempat usahatani hortikultura, wilayah lingkungan dibagi menjadi: • Dataran rendah (dari pantai 0 – 200 m dpl) Suhu maksimum antara 27-30oC, dan suhu malam hari antara 22-25oC. Pada umumnya jenis tanah (0 – 200 m dpl) adalah Aluvial dan Latosol. • Dataran medium (200-700 m dpl) Ketinggian medium berada antara dataran rendah dan dataran tinggi. • Dataran tinggi (>700 m dpl) Perbedaan unsur-unsur iklim seperti suhu udara, kelembaban, lamanya dan intensitas penyinaran matahari antara dataran rendah dengan dataran tinggi cukup tinggi, baik pada musim hujan maupun musim kemarau. Pada Tabel 1 disajikan contoh wilayah lingkungan hortikultura di daerah Pusakanegara (dataran rendah) dan Lembang, Jawa Barat (dataran tinggi). Tabel 1. Perbedaan iklim dataran rendah (Pusakanegara, Jawa Barat, 7 m dpl) dan dataran tinggi (Lembang, Jawa Barat, 1200 m dpl) pada musim hujan (Februari) dan musim kemarau (Agustus) Komponen iklim Dataran Rendah Dataran Tinggi Pusakanegara Lembang BULAN BASAH (curah hujan >200 mm) 4 bln (Des-Mar) 6 bln (Nov-Apr) BULAN KERING (curah hujan <100 mm) 6 bln (Mei-Okt) 3 bln (Jun-Agt) MH MK MH MK Kelembaban relatif (%) 83.0 72.0 80.0 74.0 Suhu maksimum 29.2 30.6 23.9 24.8 Suhu Minimum 23.0 22.0 15.0 13.2 Suhu Rata-rata 26.2 26.5 19.9 19.7 Lama penyinaran (jam/hari) 4.2 8.2 3.3 6.2 Radiasi (kal/cm2/hari) 380 435 200 296 Keterangan: MH : musim hujan; MK : musim kemarau Pada lokasi dengan ketinggian 1.200 m dpl (dataran tinggi), suhu siang (rata-rata) 24oC dan suhu malam 15oC. Intensitas penyinaran lebih rendah terutama pada musim hujan (cuaca berawan). Kelembaban udara relatif tinggi. Jenis tanah biasanya Andosol dan Grumosol. Jenis sayuran dataran rendah seperti terung, kacang panjang, bayam dll apabila ditanam di dataran tinggi, pertumbuhan tanaman akan lambat, menjadi sangat peka terhadap penyakit dan hasil yang lebih rendah. Demikian juga untuk sayuran dataran tinggi seperti kentang, bawang putih, wortel, kubis, buncis apabila ditanam di dataran rendah pertumbuhannya sangat cepat yang mengakibatkan tanaman lemah dan mudah diserang oleh penyakit dan hama sehingga hasilnya akan rendah. Pertumbuhan dan perkembangan sayuran akan terganggu apabila ditanam pada wilayah lingkungan yang tidak cocok. Beberapa contoh seperti berikut: a Bawang merah (sayuran dataran rendah) akan tumbuh dan berbunga di dataran tinggi dengan hasil umbi yang rendah dan mutu yang kurang baik. Umbi tidak dapat disimpan lama karena umbi lebih cepat bertunas. Walaupun bawang merah varietas Sumenep tidak dapat berbunga di dataran tinggi tetapi masih dapat memberikan hasil yang cukup baik; b Kubis (sayuran dataran tinggi) tidak akan membentuk kepada atau kepala yang dibentuknya kecil apablia ditanam di dataran rendah. Kubis KK cross dapat ditanam di dataran rendah dan beradaptasi pada suhu tinggi. C SISTEM USAHATANI DAN TUMPANGSARI Sistem usahatani hortikultura (terutama sayuran) biasanya dilakukan di lahan sawah (bekas tanaman padi atau sengaja tidak ditanami padi), di lahan tegalan/ladang; dan di lahan pekarangan. Sebagian besar sistem usahatani hortikultura dilakukan secara tumpangsari atau campuran (mix-cropping) bukan sebagai pola tanam tunggal (monokultur). Beberapa keuntungan petani menggunakan pola tanam tumpangsari/campuran yaitu: (a) Mengurangi risiko kegagalan panen; (b) Pemanfaatan tanah yang lebih baik pada satuan waktu yang sama; (c) Keuntungan penggunaan sarana produksi dan tenaga kerja; Pengelolaan usahatani hortikultura di lapangan terdapat beberapa pola tumpangsari, sering juga dipadukan dengan tanaman padi dan palawija. Beberapa keuntungan lain pola tumpangsari tersebut: (a) Pola tanam campuran mungkin mempertahankan populasi serangga hama (kutu daun, Thrips) dan infeksi virus pada tingkat yang rendah. Tanaman tomat dikenal sebagai tanaman penolak terhadap hama ulat daun kubis (Plutella sp). Jagung dapat digunakan sebagai tanaman pelindung bagi serangga pemangsa (musuh alami) dari hama cabe; (b) Pola tanam yang rapat, penutupan lahan mencapai 80-90% sehingga mampu mencegah erosi tanah; (c) Dengan pola tanam campuran dari beberapa jenis tanaman yang berbeda, penggunaan sinar matahari, air dan unsur hara tanah menjadi maksimum; (d) Pola tanam yang rapat akan menekan pertumbuhan rumput/gulma pengganggu; (e) Penggunaan ajir untuk tanaman tomat/ketimundapat digunakan untuk kacang panjang, oyong dll Beberapa kerugian pola tanam campuran sbb: (a) Penyemprotan dengan pestisida sering tidak diperlukan untuk masing-masing tanaman, sehingga residu pada sayuran yang baru dipanen sangat tinggi; (b) Pola tanam campuran bertentangan dengan pola pergiliran tanaman atau membuat pola pergiliran tanaman relatif sulit; (c) Pengendalian gulma dan alat-alat mekanisasi sulit dilakukan pada pola tanam campuran. Pada dasarnya sebelum menerapkan pola tanam campuran, petani harus mempertimbangkan keuntungan dan kerugian. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan adalah: (a) Tanaman yang toleran/tahan naungan seperti petsai, cabai, bawang daun, kubis dapat ditanam dengan tanaman yang tinggi seperti jagung, tomat, labu dan kacang panjang; (b) Setelah salah satu tanaman campuran dipanen, tipe tanaman lain harus dipilih untuk melanjutkan pola tanam berikutnya. Tanaman yang baik disarankan adalah tanaman sereal (padi, jagung) atau sayuran yang tidak berhubungan dengan tanaman campuran sebelumnya (terung, bawang, labu, kacang-kacangan, ubi, sayuran daun dll). D KEGIATAN UTAMA BUDIDAYA TANAMAN HORTIKULTURA 1. PENYIAPAN LAHAN, termasuk pembukaan lahan, pengolahan tanah, pembuatan bedeng dan saluran, pemupukan (pupuk kandang dan pupuk kimia), pemasangan mulsa jerami atau mulsa plastik hitam perak (MPHP); pemasangan turus/ajir. 2. PEMBIBITAN/PERSEMAIAN; 3. PENANAMAN, termasuk umur tanaman saat pindah dan pengaturan jarak tanam; 4. PENYULAMAN & PENJARANGAN; 5. PENYIRAMAN; 6. PENYIANGAN DAN PEMBUMBUNAN; 7. PEMUPUKAN SUSULAN; 8. PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT; 9. PANEN DAN PASCAPANEN. BAB 2 KELOMPOK TERONG-TERONGAN (Famili Solanaceae) Kelompok terong-terongan meliputi tanaman cabe besar, cabe kecil/rawit, tomat, paprika, terong dan kentang, merupakan sayuran penting yang banyak diproduksi di Indonesia. A CABE Cabe merupakan salah satu komoditas sayuran yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Selain dapat dikonsumsi segar, cabe dapat digunakan untuk campuran bumbu masak, rempah atau diawetkan misalnya untuk acar, saus dan tepung cabe (buah kering). Jenis-jenis cabe yang biasa dibudidayakan adalah cabe besar (cabe merah), cabe keriting dan cabe kecil (cengek atau rawit). Umur tanaman cabe dapat mencapai 4 - 7 bulan untuk cabe besar dan bahkan sampai 2 tahun untuk cabe rawit , tergantung tingkat pemeliharaannya. Tanaman cabe mempunyai daya adaptasi yang luas, dapat diusahakan pada tanah yang ringan sampai berat; di dataran rendah sampai dataran tinggi (<1.400 m dpl). Hasil panen cabe antara 2 ton/ha (rendah, budidaya ekstensif); 8 ton/ha (menengah) sampai 20 ton/ha (tinggi, budidaya intensif). Sebaiknya waktu tanam cabe disesuaikan dengan kebutuhan pasar (kecuali untuk kebutuhan ekspor atau cabe kering), mengingat cabe segar tidak tahan disimpan terlalu lama.  SYARAT TUMBUH Kondisi pertanaman cabe akan tumbuh baik pada kondisi tanah yang strukturnya remah/gembur, kaya kandungan bahan organik (>1.5%), pH tanah 5.5 - 7.0, drainase baik (tanaman cabe tidak menyukai genangan) dan tempat terbuka (tidak ada naungan). Bila ditanam di lahan bekas sawah, perlu dibuatkan bedengan dan saluran drainase (agar tidak tergenang). Suhu udara optimum untuk pertumbuhan, pembungaan dan pembuahan berkisar antara 18 - 27oC. Bila suhu siang hari >32oC proses pembungaan dan pembuahan cenderung gagal. Curah hujan yang baik berkisar antara 600 - 1.250 mm/tahun. Waktu penanaman biasanya awal musim hujan terutama untuk lahan kering/tegalan. Bila tanaman sedang berbunga dan mulai berbuah kecil terjadi hujan lebat, akan berakibat banyak bunga dan bakal buah tersebut gugur dan busuk. Tanaman cabe tidak cukup tahan terhadap kekurangan air maupun genangan air. Tanaman yang tergenang akan mengalami daun rontok dan terserang penyakit akar. Bila selama pembungaan terjadi kekurangan air mengakibatkan bunga dan buah muda rontok; pada saat perkembangan buah: akan terjadi kasus busuk pada ujung buah. Sistem perakaran cabe adalah akar tunggang (>1 meter) dan penyebaran yang agak luas. Untuk merangsang perkembangan perakaran, perlu ditambahkan pupuk kandang atau kompos untuk memperbaiki struktur tanah menjadi gembur/remah dan pupuk kimia/buatan.  TEKNIK BUDIDAYA 1 Benih dan Bibit Benih cabe dapat diperoleh dari hasil produksi yang diambil dari tanaman terpilih. Tanaman harus tumbuh sehat dan berbuah baik dan lebat. Bentuk buah harus seragam, sempurna (tidak cacat), bebas hama dan penyakit dan cukup umurnya. Buah dibelah dan diambil bijinya, dijemur (langsung kena sinar matahari 2 - 3 hari) sampai kering. Biji yang berwarna hitam dan keriput langsung dipisahkan, karena mungkin sudah terinfeksi penyakit antraknose. Biji yang sudah kering (kadar airnya 8-10%, mudah dipatahkan dengan jari tangan), kemudian disimpan dengan cara membungkus pada wadah yang kedap atau kantong plastik yang tertutup rapat. Dalam 1 gram biji terdapat 120 biji (minimal diperoleh 90 tanaman cabe yang baik, daya tumbuh 75%). Pada saat benih akan disemai, sebaiknya direndam dulu dalam air panas 50oC selama satu jam (untuk menghilangkan penyakit virus pada kulit biji), kemudian direndam dalam air hangat (30-35oC) selama 12-24 jam untuk mempercepat tumbuhnya benih tersebut. Penyemaian dapat dilakukan pada bedeng persemaian atau polybag/kantung plastik kecil. Media persemaian sebaiknya merupakan campuran tanah dan pupuk kancang (1:1). Tempat persemaian diberi atap atau naungan (dari daun kelapa, alang-alang dll) menghadap ke timur. Setelah 6-10 hari, benih cabe akan berkecambah. Pemeliharaan bibit meliputi penyiraman dan penyemprotan fungisida (bila terjadi serangan cendawan rebah kecambah dll). Bibit siap dipindah ke lahan umur 28 - 25 hari setelah semai. Seminggu atau 5 hari sebelum bibit dipindah ke lahan, sebaiknya atap persemaian dibuka agar bibit terbiasa terkena sinar matahari. 2 Cara Penanaman dan Pemeliharaan Sistem penanaman pada jenis tanah ringan sampai sedang lebih cocok menggunakan sistem barisan tunggal (single row), sedangkan pada jenis tanah berat (liat) digunakan sistem bedengan (minimal 2 baris tanaman) atau barisan tunggal untuk memperbaiki drainase. Pengolahan lahan dilakukan dengan dicangkul merata. Pemberian pupuk kandang pada saat pengolahan tanah dengan dosis 20 - 30 ton/ha, kemudian dibuat bedengan dan guludan. Biasanya ukuran bedeng lebar 100 - 120 cm; tinggi 30 cm; panjang 5 - 10 meter (atau tergantung kondisi lahan); jarak antar bedengan 30 - 50 cm. Lubang tanam dibuat sesuai jarak tanam yaitu: • Jarak tanam rapat: 50 - 60 cm X 40 - 50 cm (jumlah populasi mencapai 33.000 - 50.000 tanaman/ha) • Jarak tanam lebar: 40 - 45 cm X 75 cm (jumlah populasi lebih sedikit). Pemberian pupuk kandang (yang sudah matang) juga bisa dilakukan pada setiap lubang tanam (0.5 - 0.8 kg/lubang). Jarak tanam yang rapat lebih menguntungkan, karena buah terhindar cahaya matahari langsung (buah terbakar). Sumber pupuk Nitrogen yang digunakan adalah campuran pupuk Urea 150 kg dan ZA 450 kg (dosis per ha). Pupuk Fosfat hanya diberikan pada saat tanam dengan dosis 300 kg SP-36/ha dan pupuk Kalium dengan dosis 100 kg KCl/ha diberikan bersama pupuk Nitrogen (2 - 3 kali). Cara pemberian pupuk sebanyak 3 kali dengan urutan sbb: No Waktu tanam Urea (kg/ha) ZA (kg/ha) SP (kg/ha) KCl (kg/ha) 1 Saat tanam 50 150 300 50 2 1 bulan setelah tanam 50 150 0 50 3 2 bulan setelah tanam 50 150 0 0 Bila budidaya cabe terjadi kekurangan N dan K tanaman cenderung kerdil, berbunga lebih cepat dan daya produksi rendah. Pemupukan K akan meningkatkan kualitas buah. Pemupukan Fosfat untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan akar; pembentukan bunga dan buah. Bila kekurangan Fosfat dapat menurunkan hasil cabe. Apabila tanah cenderung masam (pH <5.5) perlu ditambahkan kapur pertanian sebanyak 2 ton/ha, diberikan 1 bulan sebelum tanam dan diolah secara merata. Pemeliharaan tanaman yang dilakukan meliputi pemberian air; pendangiran (penggemburan tanah); pemupukan susulan; pengendalian gulma (penyiangan atau penyemprotan herbisida), pengendalian hama dan penyakit. Panen cabe dapat dilakukan setelah sebagian cabe berwarna merah. Pada budidaya cabe di dataran rendah, panen pertama dapat dilakukan pada umur 70-75 HST (dataran tinggi umur 4-5 bulan). Pemanenan dilakukan setiap 3-4 hari atau seminggu sekali, sampai tanaman berumur 6-7 bulan (tergantung teknik budidaya/agronomi). Daya produksi berkisar antara 3 - 6 ton/ha. Panen buah yang terlalu muda akan mengakibatkan buah mudah layu, susut bobot, tidak tahan lama disimpan dan mudah rusak selama transportasi. 3 Pengendalian Hama dan Penyakit Hama dan penyakit penting tanaman cabe adalah penyakit antraknosa, virus dan hama Thrips. Cara pengendalian dilakukan dengan pengelolaan kultur teknis secara terpadu melalui pemilihan varietas yang tahan penyakit antraknosa, tempat persemaian yang terlindung dari afid/kepik (pembawa penyakit virus), melakukan pembumbunan bibit cabe, penggunaan mulsa jerami atau plastik MPHP (untuk mengendalikan Thrips) dan pemupukan secara berimbang. a. Penyakit Antraknose (penyebab: cendawan Colletotrichum capsici dan C. gloeosporioides). Gejala serangan ditandai pada benih: kegagalan berkecambah; kecambah: rebah kecambah; tanaman dewasa: mati pucuk, daun dan batang busuk kering berwarna coklat kehitaman; dan pada buah: buah busuk seperti sengatan matahari, busuk basah berwarna hitam (serangan pada buah cabe menjelang warna merah). Pada kondisi udara dengan kelembaban udara >95% (cuaca berkabut), berembun dengan suhu udara rata-rata 32oC membantu perkembangan penyakit selanjutnya. Pengendalian dengan perlakuan biji direndam dalam air panas (55oC) selama 30 menit atau dengan fungisida sistemik; sanitasi lahan; pergiliran tanaman bukan inang; memusnahkan gulma; menanam varietas yang tahan (misalnya Tit Super, Tampar, Hero dll). b. Penyakit Bercak Daun Cercospora (penyebab: cendawan Cercospora capsici). Gejala serangan terbentuk bintik mata kodok, berwarna abu-abu dan coklat tua. Bercak dapat mengering dan retak. Daun yang terinfeksi berubah warha ke kuning dan gugur ke tanah. Spora dapat disebarkan melalui angin, percikan air, alat-alat pertanian dan manusia. Bercak daun tersebut lebih sering muncul pada budidaya cabe di dataran tinggi dibanding dataran rendah. Pengendalian dilakukan melalui mengatur waktu penanaman yang tepat yaitu musim kemarau (asal air irigasi cukup); sanitas lahan (membuang tanaman yang terserang); penggunaan benih yang bebas patogen; penyemprotan fungisida secara bijaksana dan sesuai dosis (misalnya Klorotalonil - 4 hari sekali; Flusilozaloe - 4-7 hari sekali dll). c. Penyakit Virus Mosaik (penyebab: virus). Gejala yang muncul pertumbuhan tanaman menjadi lebih kerdil; daun menjadi belang hijau muda dan hijau tua; ukuran daun lebih kecil; tulang daun menonjol dan berkelok-kelok; daun mosaik berwarna kuning dll. Tanaman inang lainnya seperti timun, kentang, tomat atau gulma. d. Penyakit Virus Krupuk (penyebab: virus). Gejala yang muncul: daun warna hijau gelap, permukaan daun tidak rata, daun menggulung ke arah bawah dan pertumbuhan sangat kerdil. Jumlah bunga dan buah sedikit bahkan tidak berbuah sama sekali. Pengendalian penyakit virus dilakukan melalui eradikasi (pemusnahan) tanaman yang terserang virus; sanitasi peralatan yang digunakan; perendaman benih dan penyemprotan insektisida (untuk serangga vektor/pembawa virus) dengan Marshall, Buldok, Curacron atau Dursban. e. Hama Thrips. Gejala serangan Thrips, daun muda yang terserang timbul noda keperakan yang tidak teratur kemudian berubah menjadi coklat tembaga, daun mengeriting ke atas. Serangan Thrips banyak terjadi pada musim kemarau (populasi tinggi), sedangkan pada musim hujan banyak Thrips mati tercuci air hujan. Musuh alami hama Thrips misalnya kumbang Coccinellidae, kumbang Staphylinidae dan kepik Anthocoridae; predator tungau dan larva Chrysopidae. f. Ulat Grayak (Spodoptera litura). Gejala serangan larva instar memakan daun dan tersisa tulang daun atau daun berlubang. Pada buah, ditandai timbulnya lubang tak teratur. 1 kelompok telur terdiri sekitar 350 butir (stadia 3-5 hari). Serangan biasanya mulai sore/senja dan memuncak pada malam hari, siang hari sembunyi pada gulma. g. Tungau Teh Kuning (Polyphagotarsonemus latus). Gejala serangan tungau tersebut menyerang daun muda, permukaan bawah daun warna coklat mengkilat, daun menjadi kaku dan melengkung ke bawah seperti senduk terbalik, pucuk seperti terbakar dan gugur. Serangan tungau pada musim kemarau lebih tinggi. • Pengendalian Hama Terpadu (PHT) Pengendalian hama secara terpadu (PHT) dilakukan melalui: a. Pemutusan siklus hama (lahan bukan bekas tanaman terong-terongan Solanaceae); b. Sanitasi lahan (pembersihan gulma dan sisa tanaman); pengolahan tanah dan pembuatan saluran drainase; c. Penggunaan mulsa jerami atau plastik hitam perak (MPHP mencegah infeksi kutu daun dan Thrips); d. Penanaman secara tumpangsari cabe merah dengan bawang daun (bawang daun bersifat sebagai pengusir/repellant), cabe merah dengan bawang merah (bawang merah menekan serangan kutu daun dan Thrips), tanaman perangkap hama (sekeliling cabe ditanami sawi/caisin); pemilihan benih yang sehat (permukaan mengkilat dan bernas); e. Perlakuan benih dengan air hangat (50oc) selama 1 jam; f. Persemaian ditutup dengan kain kasa (kutu daun dan Thrips); g. Membuat perangkap likat warna biru atau putih untuk hama Thrips (40 buah/ha, potongan pralon dicat biru/putih, digantung di atas pertanaman cabe) dan diberi lem/vaselin - setiap minggu diganti. B TOMAT Tomat merupakan komoditas yang multiguna, dapat berfungsi sebagai sayuran, bumbu masak, buah meja, penambah nafsu makan, minuman, bahan perwarna makanan sampai bahan kosmestik dan obat. Hasil produksi tomat rata-rata di Indonesia mencapai 3.1 - 3.8 ton/ha (Jawa mencapai 7.4 ton/ha), sedangkan di AS mencapai 39 ton/ha. Menurut sifat pertumbuhannya terdapat 2 tipe varietas tomat yaitu: tipe indeterminit (indeterminate) dan tipe determinit (determinate). Tipe indeterminit ditandai pertumbuhan batang yang memanjang sampai beberapa meter dan tanaman cenderung rebah/merambat dan tipe determinit pertumbuhan batang pendek dan tegak.  SYARAT TUMBUH Tanaman tomat mempunyai daya adaptasi yang luas mulai dari dataran rendah, menengah dan tinggi (700 - 1.600 m dpl). Tipe iklim B2 (bulan basah BB 7-9 bulan dan bulan kering BK 2-4) sampai C2 (BB 5-7 bulan dan BK 2-4 bulan). Jenis tanah: Latosol (31,9%); Andosol (27,6%) dan Aluvial (13,8%). Wilayah sentra produksi tomat di Jawa seperti di Bandung, Sukabumi, Magelang - sebagian besar dataran menengah sampai dataran tinggi. Tanaman tomat tumbuh optimal pada tanah yang gembur (mengandung pasir), pH tanah 5.5 - 6.5; tidak tergenang; drainase baik (penyakit layu bakteri berkurang); lahan terbuka dan tidak ada naungan (tempat teduh mendorong timbulnya penyakit cendawan). Musim tanam yang tepat adalah bulan ke dua sebelum musim hujan berakhir (April-Mei) dan berbuah pada musim kemarau (penyakit berkurang). Pada lahan beririgasi, tomat dapat ditanam pada musim kemarau. Sistem perakaran tanaman tomat cukup luas, sebagian besar pada kedalaman 60 cm; mempunyai akar tunggang yang cukup dalam (sehingga cukup toleran terhadap kekeringan).  TEKNIK BUDIDAYA 1 Benih dan Bibit Benih tomat dapat diperoleh dari buah tomat yang sehat dan matang penuh. Sebelum biji diambil dari buahnya, buah diperam selama 3 hari sampai warna merah gelap dan lunak, baru kemudian bijinya diambil. Biji yang bercampur lendir difermentasikan selama 3 hari, sehingga akhirnya air dan lendir terpisah. Kemudian biji diambil dan dicuci sampai bersih. Biji kemudian dijemur langsung terkena sinar matahari selama 2 - 3 hari. Biji yang telah kering dapat disimpan atau langsung disemaikan. Dalam budidaya tomat, kebutuhan benih setiap hektarnya sekitar 150 gram. Persemaian dilakukan pada bedeng persemaian atau dalam plastik polybag. Bedeng persemaian diberi atap dari plastik atau jerami. Media semai berupa campuran tanah dan pupuk kandang yang telah matang (1:1). Jarak tanam yang digunakan: 5 cm x 5 cm. Setelah berumur 2 minggu, bibit dipindahkan ke bumbunan daun pisang atau bambu yang telah diisi media semai. Bibit tanaman dipelihara sampai berumur 28-35 hari (15-20 hari setelah dibumbun) dan siap dipindah ke lahan. Atau penyemaian benih dilakukan langsung di dalam polybag/plastik kecil (ukuran 8 cm x 12 cm), setelah berumur 28-35 hari siap dipindah ke lahan. 2 Cara Penanaman dan Pemeliharaan Cara penanaman tomat di lahan dapat dilakukan dalam bedengan (tiap bedeng: 2 baris tanaman) dan barisan tunggal. Cara bedengan biasanya dilakukan di dataran rendah dan menengah, sedangkan barisan tunggal dilakukan di dataran tinggi. Pengolahan tanah dilakukan sampai sedalam 30 cm, diratakan dan dibersihkan dari gulma. Kemudian dibuat bedengan dengan ukuran: lebar 1.2 - 1.6 m (tergantung jarak tanam); tinggi bedeng 30 cm; saluran/ jarak antar bedeng lebar 30 cm dan dalam 30 cm (berfungsi sebagai saluran drainase - untuk mengurangi serangan penyakit layu bakteri). Jarak tanam yang biasa digunakan adalah 60-80 cm (antar baris) X 40-50 cm (antar tanaman). Jumlah tanaman tiap hektarnya antara 25.000 - 40.000 tanaman. Pupuk kandang diberikan sebanyak 0.5 - 0.8 kg/lubang tanam (kebutuhan untuk 1 ha berkisar 12,5 - 20 ton pupuk kandang). Dosis pupuk Nitrogen yang digunakan sebesar 500 kg ZA/ha atau 250 kg Urea/ha; pupuk Fosfat sebesar 300 kg SP-36/ha dan pupuk Kalium sebesar 200 kg KCl/ha. Pemberian pupuk sebaiknya dilakukan secara bertahap yaitu: (a) pada saat tanam: 125 kg Urea (atau 250 kg ZA) + 300 kg SP-36 + 100 kg KCl; (b) umur 20 - 25 HST diberikan: 125 kg Urea (atau 250 kg ZA) + 100 kg KCl. Pemeliharaan tanaman tomat meliputi: pengendalian gulma, perompesan tunas-tunas air, pemberian mulsa, pemasangan ajir/turus, pendangiran/penggemburan tanah dan pembumbunan (karena tomat mempunyai akar-akar adventif penguat batang). Perompesan tunas-tunas air yaitu tunas yang tumbuh di ketiak daun, tidak produktif, sedikit menghasilkan bunga/buah. Perompesan dilakukan secara berulang-ulang, sehingga hanya tersisa 1 - 3 cabang saja. Pemasangan ajir/turus untuk menopang tanaman agar tidak rebah. Turus/ajir terbuat dari belahan bambu (panjang 1.2 - 1.8 m). Panen pertama dapat dilakukan pada umur 2 - 3 bulan setelah tanam, pemanenan biasanya dilakukan 8 - 15 kali dengan selang antara 2 - 3 hari sekali. Buah yang dipetik adalah buah yang telah matang 70% (warna buah hijau tua) - untuk pemasaran yang jauh. Buah yang warna merah muda (warna pecah) untuk pemasaran yang dekat; sedangkan warna merah tua biasanya untuk produksi benih. Pada budidaya tanaman yang baik setiap pohon mampu menghasilkan 1 - 2 kg, sehingga daya produksi mencapai 8 - 30 ton/ha. Pengemasan buah dilakukan dalam peti-peti kayu berisi 20 - 30 kg buah. 3 Pengendalian Hama dan Penyakit Hama penting yang menyerang tanaman tomat adalah ulat tanah (Agrotis ipsilon); ulat buah tomat (Helicoverpa armigera); kutu kebul, ulat grayak; penggorok daun (Liriomyza sp). Penyakit penting karena cendawan (penyakit rebah kecambah, bercak daun, busuk daun, bulukan, antraknosa), bakteri (penyakit layu bakteri, bercak bakteri) virus (mosaik, kerdil, bercak kuning dan mati urat), dan serangan nematoda (bengkak akar). a. Ulat tanah (Agrotis ipsilon). Ulat tanah biasanya menyerang sayuran muda seperti kubis, tomat, kentang, jagung, tembakau dan kacang-kacangan. Gejala serangan ditandai terpotongnya pangkal batang sehingga tanaman mati muda (mencapai 75-90% mati). b. Ulat buah tomat (H. armigera) bersifat polifagus. Larvanya melubangi buah tomat, buah menjadi busuk dan jatuh, kadang juga menyerang pucuk tanaman dan melubangi cabang. c. Kutu kebul (Bemisia tabaci). Gejala serangan nimfa dan serangga dewasa mengisap cairan sel daun dan merusak jaringan daun, muncul bercak nekrotif. Kutu kebul mengeluarkan 'embun madu' dan dapat menimbulkan serangan jamur embun jelaga (warna hitam), dan vektor/pembawa virus tanaman tomat. d. Ulat grayak (Spodoptera litura). Larva memakan daun dan buah tomat, gejala yang ditimbulkan bercak putih menerawang/tembus cahaya. Larva dewasa menyebabkan daun berlubang, dan pada buah berlubang tidak beraturan. Pengendalian hama dilakukan secara terpadu dengan pengaturan waktu tanam (memotong siklus hama); pemusnahan tanaman (termasuk daun dan buah) yang terserang; penggunaan varietas yang tahan (Ratna, Mutiara, Berlian, Pope tahan terhadap ulat buah tomat (H. armigera); pengendalian hayati dengan musuh alami dan predator; pemasangan perangkap hama (feromon dan perekat) dan penggunaan insektisida secara bijaksana. a. Penyakit rebah kecambah (penyebab: cendawan Rhizoctonia solani, Phythium spp). Serangan terjadi pada pangkal batang kecambah tomat, tanaman layu dan kemudian mati. Bagian tanaman menjadi busuk dan warna coklat kehitaman. Pengendalian melalui perendaman benih tomat sebelum tanam dengan air panas (50oC) selama 30 menit dan direndam dengan air dingin kemudian dikeringkan, penggunaan fungisida sistemik (Oxadicyl, disiramkan pada bedengan sebelum benih disebar), sanitasi/sterilisasi media semai. b. Penyakit bercak daun (penyebab: cendawan Alternaria solani). Gejala serangan timblnya bercak-bercak pada daun, batang dan buah. Bercak sirkular (membulat), warna coklat tua sampai hitam. Bercak pada tangkai dan buah dikenal sebagai busuk leher. Buah yang terserang ukuran bertambah besar dan pecah-pecah. Pengendalian dilakukan dengan rotasi tanaman dengan tanaman bukan terong-terongan (misalnya tanaman kacang-kacangan atau padi-padian); penyemprotan fungisida Fenarimol, Triazole, Clorotalonil dll; sanitas lahan dan penggunaan benih yang bebas patogen. c. Penyakit busuk daun/lodoh (penyebab: cendawan Phytopthora infestans). Gejala serangan ditandai dengan bercak daun tak beraturan, daun basah lembek, lunak seperti terendam air, warna hijau kehitaman. Daun menjadi busuk, menguning dan coklat. Buah yang terserang menunjukkan bercak warna coklat kehijauan, sedikit bergelombang dan basah. Cara pengendalian dengan penyemprotan fungisida sistemik (misalnya Oxadityl, Clorotalonil dll) digilir dengan fungisida kontak, agar tidak terjadi resistensi patogen; sanitasi lahan; pergiliran tanaman (bukan kentang atau tomat); dan pengaturan waktu tanam yang tepat: musim kemarau (air irigasi cukup dan tanpa udara berkabut/embun). d. Penyakit Antraknose (penyebab: cendawan Colletotrichum coccoides). Gejala serangan pada buah terbentuk bercak melingkar (cincin konsentris), warna coklat tua sampai hitam (bagian tengah bercak, hitam tanda telah terbentuk spora, bisa tinggal di dalam tanah), spora dapat menyerang buah muda dan tua. Pengendalian dapat dilakukan dengan rotasi tanaman (berbeda famili), hindari penanaman tomat pada lahan tsb 2 - 3 tahun (infeksi berat); perlakuan benih dengan perendaman biji dalam air panas (55oC) selama 30 menit; sanitasi lahan; dan penyemprotan fungisida Fenarimol, Triazole, Clorotalonil selama periode pembungaan sampai menjelang panen. e. Penyakit Layu Fusarium (penyebab: cendawan Fusarium oxysporum). Gejala yang timbul tanaman menjadi layu dan mati. Fusarium menyerang akar tanaman (bagianpembuluh kayu), pembuluh berwarna coklat. Dalam pembuluh tsb, Fusarium mengeluarkan racun yang membuat tanaman layu dan akhirnya mati. Fusarium termasuk cendawan yang menular lewat tanah (soil-born). Pengendalian dilakukan melalui: rotasi tanaman (dengan tanaman non-solanaceae) dengan waktu yang relatif lama (misalnya jagung); sterilisasi lahan; dan perbaikan drainase lahan. f. Penyakit Layu Bakteri (penyebab: bakteri Pseudomonas solanacearum). Gejala layu mulai dari pucuk daun (seperti kekurangan air). Bakteri masuk melalui pembuluh kayu (xylem) bersama unsur hara dan air secara difusi, berkembang dan merusak sel tanaman. Bakteri tsb menghasilkan enzim penghancur dinding sel tanaman. Bakteri tsb tergolong soil-born dissease, dapat bertahan lama (3-5 tahun). Pengendalian dilakukan melalui: rotasi tanaman (non-solanaceae, misalnya jagung, kubis, wortel); sanitasi dan sterilisasi tanah dengan fumigasi Dazomet (dosis 300-400 g/m3) 1 bulan sebelum tanam; perbaikan drainase; pemberian kapur pertanian; dan penggunaan nematisida. g. Penyakit Bercak Bakteri (penyebab: bakteri Xanthomonas vesicatoria). Gejala serangan timbulnya bercak buah (daun dan batang juga terserang), warna gelap dan sedikit mengkilat (berminyak), bersak seperti keropeng (scabby), bagian tengahnya pecah-pecah. Serangan biasanya pada musim hujan. Pengendalian dilakukan melalui: rotasi tanaman non-solanaceae; perlakuan benih (dengan perendaman air panas, kemudian air dingin); penyemprotan fungisida yangmengandung Cu. h. Penyakit Mosaik (penyebab: virus) Pertumbuhan tanaman yang diserang virus menjadi kerdil, daun belang/mosaik (warna hijau muda dan hijau tua). Perubahan bentuk daun: lebih panjang, pendek, menggembung; seperti tali sepatu (tinggal tulang daun saja). Virus masuk ke jaringan tanaman secara sistemik, berkembang biak dan menyebar ke seluruh jaringan tanaman. Pengendalian dilakukan melalui: eradikasi tanaman yang terserang; kebersihan alat dan tangan pada saat perompesan; perendaman benih dengan Natrium fosfat 10% selama 1 malam. i. Penyakit Kerdil (penyebab: virus). Pertumbuhan tanaman menjadi kerdil, sangat terhambat, tangkai daun memendek, ukuran daun kecil dan terpilin, warna urat daun (permukaan bawah) ungu. Pengendalian dilakukan melalui: eradikasi tanaman yang terserang; kebersihan alat dan tangan pada saat pemeliharaan tanaman. j. Penyakit Bengkak Akar (penyebab: nematoda Meloidogyne incognita). Gejala serangan: warna daun pucat, klorotik, daun tua mati, pada akar tanaman terbentuk 'gall' (benjolan) pada xylem akar. Pengendalian dilakukan melalui: sterilisasi tanah (fumigasi) atau perlakuan uap (steam). C TERONG Jenis terong yang biasanya dibudidayakan adalah terong panjang, terong biasa dan terong bulat. Warna buah beragam dari hijau muda, hijau putih dan ungu. Selain untuk sayur, terong dapat dimakan mentah untuk lalab. Terong biasanya dipanen pada umur 60-100 HST. Hasil panen mencapai 5 – 15 buah/pohon dengan bobot antara 0.25 – 0.5 kg/buah. Setiap pohon dapat dipanen 7 – 15 kali dengan selang waktu 3 hari sekali.  SYARAT TUMBUH Tanaman terong dapat dibudidayakan pada lokasi dengan ketinggian s/d 1.000 m dpl, pada dataran rendah pertumbuhannya relatif lebih cepat. Pada tekstur tanah lempung berpasir dengan drainase baik, terong dapat tumbuh lebih baik. Terong agak tahan terhadap kadar garam yang tinggi dan curah hujan yang tinggi. • TEKNIK BUDIDAYA 1 Benih dan Bibit Benih dapat dari buah terong yang telah matang dan berwarna kuning. Biji dikeluarkan, kemudian dicuci dan dijemur (hingga kering 2-3 hari). Tiap 1 gram terdapat sekitar 250 butir biji. Untuk penanaman seluas 1 ha dibutuhkan benih terong 200 – 250 gram. Pada budidaya terong biasanya dilakukan persemaian bibit terong. Benih akan tumbuh 8 – 10 hari setelah sebar, pada umur 3 minggu (bibit telah berdaun 3-5 helai daun) bibit siap dipindah ke lahan. 2 Cara Penanaman dan Pemeliharaan Penanaman biasanya dilakukan pada bedengan dengan lebar antara 120 – 140 cm, panjang tergantung lokasi lahan, tinggi bedeng 20-30 cm dan parit/got 30 cm. Jarak tanam 70-80 cm (antar barisan) x 60-70 cm (antar tanaman). Pada penanaman tanpa bedengan, jarak tanam 75-90 cm (antar baris) x 50-60 cm (antar tanaman). Pupuk kandang diberikan sebanyak 0.5 – 0.8 kg/lubang tanaman. Pada umur 2 MST diberikan campuran pupuk kimia sebanyak 10 gram/pohon. Campuran pupuk tersebut yaitu Urea, ZA, ZK atau KCl dengan perbandingan 1:2:1. Pada umur 1-1,5 bulan diberikan pupuk lagi. Kebutuhan pupuk tiap hektar yaitu 150 kg ZA, 300 kg Urea dan 150 kg ZK atau KCl. Pemeliharaan tanaman berupa penyiraman, penyiangan dan pengendalian hama penyakit. 3 Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman a. Kumbang Epilachna. Kumbang tsb memakan daun sampai berlubang-lubang kecil. Pengendalian dengan menggunakan pestisida Tamaron 200LC, Orthene 75SP, Monitor 200LC, Lebaycid 500EC dengan dosis sesuai anjuran. b. Penyakit Layu Bakteri. Sebagian cabang mulai layu, kemudian seluruh tanaman dan mati. Pengendalian dengan menanam varietas yang tahan layu bakteri, membuat saluran drainase dan pergiliran tanaman. c. Busuk Buah Phomopsis. Bercak berbentuk cekung bulat pucat dan akhirnya membusuk berwarna hitam (warna spora). Pengendalian dengan pergiliran tanaman dan fungisida Dithane M45, Vondozeb 80WP. Buah yang terserang dikumpulkan, ditimbun atau dibakar. BAB 3 KELOMPOK LABU-LABUAN (Famili Cucurbitaceae) Kelompok labu-labuan meliputi timun, melon, semangka, oyong, paria, labu siam, blustru, bligo dan waluh. Jenis yang sering dibudidayakan secara intensif seperti timun, semangka, melon dan labu siam. A TIMUN Buah timun biasanya dimanfaatkan untuk sayuran lalap, acar dan asinan. Jenis timun yang dibudidayakan adalah timun biasa (kulit buah berbintik, warna buah muda: hijau tua dan tua: kuning sampai coklat) dan timun suri/krai (buah besar, lonjong, kulit halus dan warna kuning bergaris putih). Timun termasuk tanaman semusim (3-4 bulan) yang bersifat menjalar atau merambat dengan alat sulur yang berbentuk spiral. Dalam teknik budidaya timun biasanya digunakan ajir/turus sebagai tempat merambatkan tanaman. Panjang batang 1 - 5 m, tipe bunga berumah satu artinya bunga jantan dan bunga betina terpisah (tetapi dalam satu pohon). Bunga betina mempunyai bakal buah yang membengkak di bawah mahkota bunga.  SYARAT TUMBUH Timun dapat ditanam di hampir seluruh jenis tanah, tetapi untuk memperoleh produksi yang baik dibutuhkan tanah yang mengandung bahan organik tinggi, pH tanah netral (6 - 7), tersedia air cukup pada saat berbunga (dan pengisian buah), tidak menyukai penggenangan, tempat terbuka dan cuaca yang cerah. Timun dapat ditanam sepanjang tahun dan waktu tanam yang baik adalah akhir musim hujan (Maret/April) atau awal musim kemarau.  TEKNIK BUDIDAYA 1 Benih dan Bibit Benih dapat diperoleh dari biji buah timun yang telah tua berwarna kuning, coklat dan tidak cacat. Biji dikeluarkan dari buah, dicuci dan dijemur langsung (2 - 3 hari), kemudian penyimpanan pada tempat yang rapat. Kebutuhan benih untuk budidaya timun mencapai 2 - 3 kg/ha (varietas lokal) dengan populasi 60.000 tanaman/ha. 2 Cara Penanaman dan Pemeliharaan Penyiapan lahan dilakukan dengan pencangkulan sedalam 30 cm dan diratakan. Bisa juga dibuat bedengan (terutama untuk lahan bekas padi sawah), lebar bedengan 120 - 150 cm, saluran/got lebar 30 cm dan dalam 30 cm. Lubang tanam diatur dengan jarak tanam 50 cm X 100 cm (antar barisan). Setiap lubang tanam diberi pupuk kandang 1 kg (atau dosis anjuran 20 ton/ha) dan pupuk SP-36 dengan dosis 120 kg/ha. Setiap lubang tanam diisi dengan 3-4 butir benih. Atau dibuat persemaian bibit dalam kantung polybag/plastik kecil (diisi campuran tanah dan pupuk kandang 1:1). Setiap polybag diisi 2 - 3 benih. Bila tinggi bibit mencapai 20 cm dapat dipindahkan ke lahan. Setelah tanaman berumur 2 minggu diberikan pupuk Urea (dosis 180 kg/ha) dan KCl (dosis 100 kg/ha). Cara pemberian dilakukan 2 kali, yaitu 50% pada minggu ke 2 dan 50% sisanya pada minggu ke 4 berikutnya. Tanaman timun mulai berbunga pada umur 3 - 4 minggu setelah tanam. Pemasangan ajir atau turus bambu dilakukan pada umur tanaman 3 minggu. Bila tanaman terlalu subur disarankan dilakukan pemangkasan ujung tanaman. Penyiraman dilakukan secara rutin 2 - 3 hari sekali, bila tidak terjadi hujan. Buah pertama dapat dipanen pada umur tanaman 5 - 6 minggu setelah tanam. Bila terlambat pemanenan buah cenderung keras dan liat. Dalam 1 minggu dapat dipanen 2 - 3 kali dan sampai 15 kali panen. Dengan teknik budidaya yang baik dapat dihasilkan 15 - 20 ton/ha. Buah timun tidak boleh disimpan selama 3 hari, karena akan layu dan rasanya kurang segar. 3 Pengendalian Hama dan Penyakit Hama penting pada tanaman timun adalah kumbang Epilachna, ulat tanah Agrotis, kutu daun dan lalat buah Dacus. a. Kumbang Epilachna memakan daun sehingga daun berlubang-lubang. Pengendalian dengan insektisida Basudin, Bayrusil, Orthene, Lebaycid (frekuensi seminggu 1X). b. Ulat tanah (Agrotis ipsilon). Gejala serangan ditandai dengan terpotongnya pangkal batang tanaman sehingga tanaman mati muda (biasanya umur 2 - 5 minggu). Tanaman inang lainnya adalah kubis, tomat, kentang, cabe dan jagung. Pengendalian dengan penyemprotan insektisida Dursban di sekitar tanaman. c. Kutu daun biasanya menghisap cairan daun, sehingga daun kecil-kecil dan mengkerut. Pengendalian dengan menggunakan Decis, Curacron, Dursban dll. d. Lalat buah Dacus biasanya meletakkan telurnya ke dalam buah, larva akan merusak, buah menjadi busuk dan gugur. Pengendalian dengan Decis, Curacron, Supracide, Thiodan dll atau membuang buah yang terserang dan ditimbun/dibakar. Penyakit penting tanaman timun adalah penyakit bercak daun bakteri Pseudomonas, rebah kecambah (busuk akar Rhizoctonia dan Phythium), embun tepung dan tepung. a. Penyakit bercak daun (bakteri Pseudomonas). Gejala yang nampak bercak-bercak basah pada daun, menering dan meninggalkan bercak putih dan akhirnya daun berlubang tidak teratur. Pengendalian dilakukan dengan menanam benih yang sehat, pergiliran tanaman, penyemprotan fungisida Mankozeb dan Maneb. b. Penyakit Rebah Kecambah menyerang bagian pangkal batang (leher akar) pada bibit tanaman sehingga bibit mati. Pengendalian dengan desinfeksi benih dengan Benlate, Thiram, atau pemberian Ridomil pada tempat persemaian. c. Penyakit embun tepung (downy mildew, cendawan Pseudoperonospora) ditandai dengan gejala permukaan daun bercak kuning dan bagian bawah kumpulan cendawan warna keunguan. Serangan lanjutan tanaman menjadi kercil dan akhirnya mati. Kondisi cuaca yang lembab akan mendorong serangan empun tepung. Pengendalian dengan penanaman varietas yang tahan dan penyemprotan secara teratur dengan Dithane, Antracol, Ridomil dan Daconil. d. Penyakit tepung (powdery mildew, cendawan Erysiphe) ditandai dengan bercak berwarna putih seperti tepung di permukaan daun dan batang muda, kemudian menguning dan kering. Titik kecil hitam dalam lapisan putih adalah kumpulan spora untuk berkembang biak. Kondisi cuaca yang kering mengakibatkan serangan meningkat cepat. Pengendalian dengan penyemprotan Nimrod, Karthane dan tanaman yang terserang dicabut dan ditimbun ke dalam tanah. B MELON Sekarang ini budidaya melon telah dilakukan secara ekonomis oleh petani. Buah melon biasanya dikonsumsi sebagai buah segar atau minuman segar dan diolah menjadi sirup. Secara garis besar ada dua jenis melon yang dikenal yaitu musk melon (netted melon) dan winter melon. Ciri netted melon kulit buah keras, kasar dan berjaring seperti jala, dapat disimpan lebih lama, aroma lebih harum, dan buah cepat masak. Sedangkan winter melon selain kulit buahnya halus, mengkilat, mudah rusak, aroma buah kurang harum dan pemasakan buah lambat. Tanaman melon merupakan tumbuhan merambat, dengan batang panjang bersegi lima, bercabang dan berbulu halus. Bentuk daun seperti daun timun bersudut lima. Bunga jantan dan bunga jantan terpisah, tetapi masih dalam satu pohon. Budidaya melon akan tumbuh mulai dataran rendah sampai dataran menengah (200 – 700 m dpl). • SYARAT TUMBUH Lahan yang cocok untuk budidaya melon adalah jenis tanah yang banyak mengandung bahan organik, bersifat porous dan daya menahan air yang baik; dan pH 6.0 – 6.7. Suhu optimum antara 24 – 28oC, ketinggian tempat antara dataran rendah sampai dengan dataran medium (<700 m dpl). Tanaman melon membutuhkan sinar matahari penuh dan kelembaban yang rendah untuk memacu pertumbuhan, meningkatkan kadar gula dan aroma yang harum. Kelembaban yang tinggi akan menghambat pertumbuhan tanaman, mengurangi pembungaan, mutu buah menjadi kurang baik dan timbul serangan cendawan/penyakit daun. • TEKNIK BUDIDAYA 1 Benih dan Persemaian Untuk memproduksi benih melon sendiri, harus dipilih tanaman melon yang sehat dan buah yang tua dengan rasa buah yang manis dan harum. Tanaman tersebut harus diisolasi dari tanaman lainnya. Biji dikeluarkan, dicuci bersih, kemudian dijemur sampai kering. Setelah kering dipilih yang berisi kompak (mentes) dan tampak sehat, kemudian disimpan dalam botol berwarna gelap atau kaleng rapat. Untuk penyemaian bibit, benih direndam dalam air hangat (55oC) selama satu jam agar kulit biji menjadi lunak. Setelah itu direndam lagi dalam larutan fungisida Dithane M-45 (0,2%) selama 30 menit untuk membasmi patogen terbawa. Penyiapan media semai, terdiri dari campuran tanah dan pupuk kandang (1:1) dalam kantong plastik (polybag) ukuran 10 x 15 cm. Setiap polybag diisi 2 – 3 biji melon. Untuk penanaman satu hektar dibutuhkan 1,2 – 1,5 kg benih melon (jumlah populasi 30.000 – 45.000 tanaman/ha). Pemindahan bibit ke lahan biasanya dilakukan pada saat tanaman berumur 1 – 2 miggu. Varietas melon yang terkenal adalah Sky Rocket (tipe netted melon/musk melon), lebih disukai konsumen; dan Honey Dew (tipe winter melon). Varietas Sky Rocket (hibrida) berasal introduksi dari Taiwan, toleran terhadap penyakit tepung dan embun tepung. Umur panen 75-90 hari setelah tanam. Buah bulat, kulit hijau, bercak jala, bobot sekitar 1 kg. Daging buah hijau, berair dan manis. Varietas Honey Dew dicirikan dengan bentuk buah bulat, bobot sekitar 1.8-2.0 kg, permukaan kulit halus dan mengkilat, warna kulit krem, warna daging hijau muda, rasa manis, aroma kurang harum dan tidak tahan disimpan lama. 2 Cara Penanaman dan Pemeliharaan Cara penyiapan lahan untuk budidaya melon dilakukan dengan pengolahan tanah sedalam 30 cm, kemudian dibuat bedengan setinggi 20 – 30 cm dan lebar 1,20 m. Kemudian dibuatkan lubang tanam dengan ukuran 20 x 20 x 20 cm; jarak antar lubang tanam dalam barisan sekitar 40 cm dan jarak antar barisan 80 cm. Dalam setiap lubang tanam diberikan pupuk kandang yang telah matang sebanyak 2 kg dan campuran 30 g pupuk Urea, SP-36 dan KCl (perbandingan 1:1:1) atau dosis 450 kg pupuk campuran/ha. Pemindahan bibit ke lapang dilakukan setelah tanaman berumur 1 - 2 minggu atau telah berdaun 2-3 helai (pemindahan tidak boleh terlambat). Keterlambatan pemindahan bibit mengakibatkan tanaman menjadi lemah, pembungaan terlambat, dan akhirnya produksinya rendah. Pemupukan susulan dilakukan 3 kali dengan selang/interval 15 hari dan dosis 20 g pupuk campuran Urea dan KCl (perbandingan 1:1). Pemberian air irigasi dilakukan secara teratur untuk mempertahankan kelembaban tanah yang tinggi. Faktor air menjadi salah satu faktor pembatas penting sampai buah menjadi matang. Namun kelebihan air akan merusak perakaran tanaman. Berdasarkan kebutuhan tersebut disarankan penggunaan mulsa jerami atau mulsa plastik hitam perak untuk mempertahankan kelembaban tanah. Setelah tinggi tanaman mencapai 40 cm dipasang ajir (turus) dari bambu setinggi 2 m sebagai tempat tanaman untuk merambat. Pemasangan ajir dilakukan secara miring terhadap baris tanaman di depannya, sehingga bagian atas ajir disatukan agar lebih kuat. Pemangkasan tanaman dilakukan pada tunas-tunas samping (lateral) yang tumbuh pada ketiak daun ke 1 sampai ke 8, sedangkan ketiak daun berikutnya dipelihara untuk produksi buah. Setelah batang utama tumbuh 20 ruas, tunas batang utama tersebut perlu dipangkas. Pada setiap cabang samping biasanya dapat menghasilkan 1 – 2 bakal buah, namun harus dipangkas dan hanya dipelihara 2 – 4 buah yang tumbuh sehat dan kuat saja. 3 Pengendalian Hama dan Penyakit Penyakit tanaman yang penting pada tanaman melon, yaitu: a. Penyakit Layu Fusarium dengan gejala daun menjadi kuning dan akhirnya layu. Penyakit tersebut menyerang pembuluh batang dan akar. Pengendalian dilakukan dengan cara perbaikan saluran drainase dan pergiliran tanaman. Tanaman yang terserang dicabut dan dibakar agar patogen tidak menyebar, dan tanaman lainnya dilindungi dengan penyemprotan Benlate. b. Penyakit Embun Tepung (downey mildew) disebabkan cendawan Pseudoperonospora, gejala daun bercak kuning, bagian bawah daun kumpulan cendawan berwarna keunguan. Akibat serangan penyakit tersebut tanaman menjadi kerdil dan mati. Biasanya timbul pada cuaca sangat lembab. Pengendalian dilakukan dengan penyemprotan secara teratur Daconil, Dithane M-45, Antracol atau Ridomil 2G. c. Penyakit Tepung (powdery mildew) disebabkan cendawan Erysiphe, gejala bercak berwarna putih seperti tepung pada permukaan daun dan batang muda, kemudian menjadi kuning dan mengering. Kumpulan spora berwarna hitam (bintik hitam). Penyakit tersebut menyebar lebih cepat pada cuaca panas dan kering. Pengendalian dilakukan dengan fungisida Nimrod 250EC atau Karathane 19,5 WP. Tanaman yang terserang sebaiknya dicabut dan dibenamkan ke dalam tanah. Hama penting seperti kutu daun dan lalat buah. a. Kutu daun biasanya menghisap cairan daun sehingga daun mengecil dan berkerut. Selain itu kutu daun dapat bertindak sebagai penyebar virus. Pengendalian dilakukan penyemprotan insektisida Chemithion 500EC, Curacron 500EC, Decis 2,5EC, atau Dursban 20EC. b. Lalat buah Dacus biasanya membuat buah menjadi busuk. Pengendalian dilakukan dengan membungkus buah-buah yang masih kecil dengan kertas atau daun pisang kering agar lalat buah tidak meletakkan telurnya. Pengendalian dilakukan dengan penyemprotan Curacron 500EC, Decis 25EC, Hostathion 40EC, atau Thiodan 35EC. Buah yang terserang harus dipetik dan dibenamkan ke dalam tanah. 4 Panen dan Pascapanen Pemanenan melon biasanya pada umur 80 – 120 hari setelah biji disemai/ditanam tergantung pada varietas dan kondisi cuaca setempat. Tanda-tanda buah yang telah tua dicirikan dengan aroma yang harum, warna kulit kekuning-kuningan, tangkai buah retak dan garis pemisah tangkai dan buah telah tempak jelas, dan jaring-jaring kulit buah sudah menonjol jelas. Kulit buah yang berwarna kecoklatan atau sedikit hitam menunjukkan buah terlalu masak. Kulit buah yang lecet atau terluka harus segera dijual karena terjadi penguapan dan bobot buah akan menurun. Pemetikan buah melon harus yang masih berwarna hijau bukan kuning. Penyimpanan sebaiknya dilakukan dalam suhu dingin 6-9oC untuk mengurangi laju pematangan dan kehilangan kandungan gula buah. C SEMANGKA Buah semangka relatif disukai setiap orang -anak kecil sampai dewasa- karena rasanya yang segar, berair, lunak, manis dan warnanya yang menarik (merah atau kuning). Tanaman semangka diperkirakan berasal dari Afrika, tanaman yang beradaptasi dengan iklim yang kering. Semangka merupakan tanaman setahun, batangnya berbulu halus dan menjalar sampai >5 meter, sulur bercabang dengan 2-3 buah. Bunga jantan dan betina terpisah, tetapi dalam satu pohon, jumlah bunga jantan lebih banyak dibanding bunga betina. Bentuk buah bervariasi dari oval sampai bulat. Kulit buah bagian luar berwarna hijau muda dan strip hijau tua dan bagian dalam berwarna putih, daging buah berwarna merah atau kuning. Dalam budidaya semangka, biasanya setiap pohon hanya dipelihara 1 - 2 buah saja agar diperoleh buah dengan bobot mencapai >5 kg. Di wilayah sentra produksi semangka (seperti Sragen, Ngawi, Pasuruan, Malang Banyuwangi dll) budidaya dilakukan pada musim kemarau. Teknologi budidaya semangka telah menggunakan benih unggul, pemupukan berimbang (pupuk kimia dan organik), penggunaan mulsa jerami atau plastik, pengendalian hama dan penyakit. Jumlah populasi tanaman tiap hektar mencapai 5.000 - 10.000 m dan produksi diperkirakan mencapai 8 - 15 ton/ha (1 buah/tanaman rata-rata 3 kg).  SYARAT TUMBUH Tanaman semangka mempunyai daya adaptasi yang luas (mengingat asalnya dari Afrika), terutama di dataran rendah sampai menengah (<700 m dpl).. Pertumbuhan optimal diperoleh pada kondisi tanah tekstur liat berpasir, pH 5.0 - 6.8 dan tidak menyukai air yang berlebihan. Suhu optimal berkisar antara 21-29oC. Pada tanah bertekstur liat berat akan menghambat pertumbuhan tanaman dan buahnya relatif kecil dan mutu rendah. Kondisi curah hujan lebat, terus-menerus atau kelembaban tinggi akan merangsang timbulnya penyakit cendawan.  TEKNIK BUDIDAYA 1 Benih dan Bibit Produksi benih dapat dilakukan dengan seleksi buah yang telah tua dari tanaman yang sehat dan fisiknya kuat. Biji dikeluarkan dari daging buah, dicuci bersih dan dijemur. Benih kemudian disimpan dalam botol berwarna atau kaleng rapat dan dicampur dengan abu dapur (cara penyimpanan yang baik, benih dapat tahan >1 tahun). Tahapan pembibitan dilakukan sbb: (a) Perendaman dengan air panas (55oC) selama 1 jam agar kulit biji lunak; (b) Kemudian direndam dalam larutan Dithane M-45 (0.2%) selama 30 menit - untuk mengurangi patogen yang terbawa; (c) Kemudian benih siap disemai dalam polybag (kantong plastik) kecil - ukuran 10 x 15 cm. Polybag diisi media campuran tanah dan pupuk kandang (1:1). Setiap polybag diisi 2-3 biji. Penyiraman dilakukan setiap 2-3 hari. Pada umur 2 - 3 minggu setelah semai, bibit siap dipindah ke lahan budidaya. Varietas semangka yang disukai adalah New Dragon, Sugar Baby, Dragon (semangka berbiji, hibrida) dan Grand, Baby, Glory (non-biji, hibrida, dagingmerah), Golden Baby (non-biji, hibrida, daging kuning). Varietas lokal seperti Sengkaling (Malang), Bajul Mati (Banyuwangi) dan Hitam (Pasuruan). 2 Cara Penanaman dan Pemeliharaan Penyiapan lahan dilakukan dengan membuat lubang tanam (cemplongan) dengan ukuran lebar 40 cm x panjang 40 cm x dalam 30 cm. Jarak antar barisan 1.5 - 2 m dan jarak antar lubang dalam barisan 1 m. Setiap lubang tanam diberi pupuk kandang (yang telah matang) 2 - 3 kg. Pupuk kimia campuran terdiri dari ZA, SP-36, KCl dengan perbandingan 1:2:2 - pada saat tanam setiap lubang diberi 35 g campuran pupuk tsb. No Jumlah Tanaman/ha ZA (kg/ha) SP-36 (kg/ha) KCl (kg/ha) 1 5.000 35 70 70 2 10.000 70 140 140 Setelah tanaman berumur 30 HST (1 bulan) dan 50 HST diberi pupuk susulan berupa pupuk Urea atau ZA dengan dosis 7 g/ lubang tanaman. Pada umur 45 HST (1,5 bulan) dilakukan pendangiran dan pembumbunan tanah di sepanjang barisan tanaman (digulud) dan pembuatan saluran drainase lebar 40 cm. Penyiraman dilakukan secara teratur. Pemasangan mulsa jerami setelah pendangiran untuk mempertahankan kelembaban tanah dan digunakan sebagai alas buah semangka. Bunga betina muncul sekitar 45 HST. Setelah proses pembuahan dan mulai muncul bakal buah, sebaiknya dilakukan penjarangan buah setiap tanaman hanya dibatasi 2 - 3 buah saja (dipilih bentuk bakal buah yang sempurna, jangan yang berdekatan). Dalam proses pembesaran buah perlu dilakukan pembalikan buah agar warna kulit merata. Buah pertama yang dapat dipanen berumur 80 -100 HST (tua). Perbedaan khusus buah tua atau muda biasanya hanya menggunakan perubahan suara bila diketuk dengan jari tangan. Jumlah produksi rata-rata berkisar antara 8 - 15 ton/ha bergantung varietas dan teknik budidaya yang dilakukan. Bobot buah individu berkisar antara 2 - 10 kg. 3 Pengendalian Hama dan Penyakit Penyakit penting tanaman semangka adalah penyakit layu Fusarium, penyakit Antraknose, penyakit embun tepung, penyakit tepung dan penyakit serangan virus. Hama penting meliputi kumbang Epilachna dan ulat Agrothis. a. Penyakit layu Fusarium. Gejala serangan: daun menjadi kuning dan layu. Fusarium masuk dan menyerang jaringan pembuluh akar dan batang. Pengendalian dilakukan melalui: eradikasi/ pemusnahan tanaman yang terserang (dibakar); pembuatan saluran drainase dan penyemprotan dengan Benlate. b. Penyakit Antraknosa. Gejala serangan: dau bercak berwarna coklat muda dan kemudian mengering. Pada batang dan tangkai daun bercak memanjang dan buah bercak bulat atau lonjong dan membentuk spora berwarna merah muda. Pengendalian dilakukan melalui: pemilihan benih yang sehat, perlakuan benih dengan fungisida Thiram; dan penyemprotan fungisida Dithane, daconil, Vondozeb. c. Penyakit Embun Tepung (downey mildew; penyebab: cendawan Pseudoperonospora). Gejala daun bercak kuning, permukaan bawah daun terdapat kumpulan cendawan keunguan. Tanaman menjadi kerdil dan mati. Serangan timbul pada cuaca sangat lembab. Pengendalian dilakukan dengan penyemprotan secara teratur Daconil, Dithane, Antracol atau Ridomil. d. Penyakit Serangan Virus. Gejala yang timbul: daun belang kuning, permukaan daun keriput, pinggir daun bergelombang kecil-kecil tak teratur. Virus disebarkan oleh kutu daun yang bergerombol di permukaan daun bagian bawah. Pengendalian dilakukan (untuk kutu pembawa) dengan: penyemprotan insektisida Chemition, Curacron atau Decis. e. Hama Kumbang Epilachna. Biasanya memakan daun menjadi berlubang-lubang. Pengendalian dilakukan dengan: penyemprotan Basudin, bayrusil, Orthene, Monitor, Lebaycid. f. Hama Ulat Agrotis. Ulat tanah biasanya mematahkan batang muda. Pengendalian dilakukan dengan: Dipterex, Dursban. BAB 4 KELOMPOK SAYURAN DAUN Sayuran daun sangat digemari oleh masyarakat seperti bayam, kangkung, sawi, caysim, pakchoy, selada, kubis dll. S ayuran daun merupakan sayuran yang banyak mengandung gizi, kaya vitamin dan mineral seperti vitamin A, C, mineral besi dan kalsium - yang dibutuhkan oleh tubuh manusia. Sayuran daun yang dikenal oleh masyarakat yaitu bayam, kankung, sawi, caisin, pakchoy, selada, kubis dll. Hama yang sering menyerang tanaman sayuran daun adalah ulat-ulat pemakan daun, sehingga hasil tidak menarik. Petani biasanya menggunakan insektisida seperti Dursban, namun harus memperhatikan dosis dan periode aman sebelum panen. Saat ini telah dikembangkan insektisida biologi BT (Bacillus thringiensis) seperti Dipel, Florbac, Thuricide, namun kurang diminati dan relatif lebih mahal. Teknik penanaman sayuran daun biasanya dilakukan secara tumpangsari, mengingat periode tumbuh – panen yang relatif pendek. Pupuk yang diberikan biasanya Urea atau ZA yang tinggi. Perakaran yang padat yang jumlah daun yang banyak dapat menekan gulma dan memperbaiki struktur tanah. Sayuran bayam dan kangkung tidak banyak diserang nematoda, penyakit tular tanah dan bengkak akar, sehingga dapat terus-menerus ditanam pada lahan yang sama tanpa pergiliran tanaman. Sayuran daun seperti sawi, caisin, pakchoy, kubis dll umumnya peka terhadap penyakit akar yang disebabkan oleh cendawan, bakteri dan nematioda, sehingga perlu dilakukan pergiliran tanaman dengan jenis tanaman yang berbeda.  SYARAT TUMBUH Tanaman sayuran daun dapat diusahakan setiap saat, tetapi waktu tanam yang baik adalah awal musim hujan (Oktober/November) atau pada awal musim kemarau (Maret/April). Jenis tanah yang banyak mengandung bahan organik, gembur dan cukup air dan pH 6 – 7 merupakan tempat tumbuh yang baik.  BENIH Benih dapat diperoleh dari tanaman yang berumur dewasa dengan membiarkan perkembangan bunga dan buah. Tanaman dipilih yang mempunyai produksi tinggi, sehat dan kuat batangnya.  TEKNIK BUDIDAYA Penanaman sayuran daun biasanya dilakukan pada bedengan dengan lebar antara 100 – 120 cm dan panjang sesuai kondisi lahan. Pada tanah yang tandus ditambahkan pupuk kandang dengan dosis 2 kg/m2. Pupuk kimia diberikan pada saat tanam atau pengolahan tanah setiap ha yaitu 200 kg SP-36, 100 kg KCl dan 150 kg Urea. Pada saat tanaman umur 2 minggu setelah tanam diberikan lagi 150 kg Urea/ha. 1 Bayam, Sawi dan Pakchoy Cara penanaman bisa ditebar langsung atau melalui persemaian. Pada penanaman langsung, dibuat alur dengan jarak barisan 30 cm. Kemudian benih (yang dicampur abu dapur atau tanah halus) ditabur setipis mungkin dan merata dalam alur, kemudian ditutup dengan lapisan tanah. Sedangkan persemaian biasanya untuk sawi atau pakchoy, dilakukan dengan menggunakan polybag plastik kecil yang diisi media campuran tanah+pupuk kandang/kompos (1:1). Kemudian pada umur 7-10 HST dipindahkan ke lahan yang disiapkan dengan jarak tanam 20 x 20 cm. 2 Kangkung Cara penanaman kangkung menggunakan jarak tanam 25-30 cm x 20-25 cm. Setiap lubang diisi 2 – 3 biji kangkung. Kangkung siap dipanen umur 25 – 30 hari. BAB 5 KELOMPOK KACANG-KACANGAN (Famili Leguminosae) Kelompok kacang-kacangan (leguminosae) yang dimanfaatkan sebagai sayuran meliputi buncis, kacang panjang, kapri, kecipir, kara, kacang bogor dan kacang merah. A KACANG PANJANG Kacang panjang merupakan salah satu komoditas sayuran yang mempunyai kandungan nutrisi cukup tinggi dan kandungan protein. Selain dimanfaatkan buahnya, daun muda kacang panjang juga digunakan sebagai sayur atau lalap mentah. Tanaman kacang panjang termasuk berumur pendek (3-4 bulan), dapat tumbuh baik pada dataran rendah sampai dengan dataran menengah (< 700 m dpl), pada lahan kering/tegalan maupun lahan sawah beririgasi, dengan pembuatan bedengan. Biasanya tanaman kacang panjang digunakan sebagai tanaman sela atau tanaman pinggir di lahan sawah beririgasi. Akar tanaman kacang panjang (termasuk jenis legum) mampu bersimbiosis dengan bakteri Rhizobium yang dapat mengikat N bebas dari udara, sehingga kebutuhan pupuk N dapat dikurangi. Produksi hasil kacang panjang rata-rata mencapai 4,2 ton/ha, untuk daerah Jawa mencapai 5,2 ton/ha, Sumatera 3,2 ton/ha dan lainnya hanya 2,8 ton/ha. Tingkat produksi tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh teknik budidaya kacang panjang, termasuk jenis/varietas yang ditanam.  SYARAT TUMBUH Tanaman kacang panjang membutuhkan kondisi tanah yang gembur dan kaya kandungan bahan organik, serta pH tanah masam-netral (5,5 - 6,5). Dapat tumbuh baik pada dataran rendah dan menengah (< 700 m dpl). Waktu tanam sebaiknya awal atau akhir musim hujan. Tanaman tersebut lebih menyukai sinar matahari, sehingga bila ternaungi hasilnya relatif kurang. • TEKNIK BUDIDAYA 1 Benih dan Biji Benih yang digunakan diambil dari buah masak pohon dan keadaan sehat yaitu polong sudah kuning dan kering. Kebutuhan benih setiap hektar mencapai 20 - 30 kg/ha. Cara penyimpanan benih dilakukan dengan menggunakan botol-botol gelas berwarna gelap, sebaiknya diberikan minyak sawit, kedelai atau jagung (biasanya minyak yang kandungan lemaknya rendah) 1 liter untuk 100 kg benih; atau disemprot dengan Baygon, diberi kapur atau silicagel dan bila memungkinkan setiap 1 kg atau 5 kg dibungkus dengan kertas aluminium foil yang hampa udara. 2 Cara Bertanam dan Pemeliharaan Persiapan lahan meliputi pencangkulan tanah, penambahan dan pencampuran bahan organik tanah (pupuk kancang atau kompos) dengan dosis 5 - 10 ton/ha, pembuatan bedengan dan pemberian pupuk Urea (50 kg/ha), SP-36 (100 kg/ha) dan KCl (50 kg/ha). Lebar bedengan biasanya berukuran 100 - 120 cm (biasanya terdapat 2 baris tanaman). Jarak tanam yang digunakan biasanya 20-40 cm X 60-90 cm, sehingga jumlah tanaman tiap hektarnya berkisar antara 40.000 - 60.000 tanaman/ha. Setiap lubang tanam diisi dengan 2-3 butir benih. Pada umur 3 minggu setelah tanam, diberikan pupuk Urea (50 kg/ha). Bila pupuk Urea dan pupuk organik terlalu tinggi dosisnya hanya mengakibatkan pertumbuhan vegetatif. Pada saat tinggi tanaman mencapai 40 cm, sebaiknya diberi ajir/turus bambu dengan tinggi mencapai 2 meter sebagai tempat merambatnya tanaman. Tanaman yang terlalu subur perlu dipangkas (dirompes) daunnya. Selain itu perlu dilakukan pendangiran dan pemberantasan gulma. Penyiraman sebaiknya dilakukan secara rutin 2 - 3 hari sekali, bila tidak ada hujan. Polong kacang panjang mulai dapat dipanen pada saat tanaman berumur 50 - 60 hari dan kemudian dapat dipanen seminggu sekali, biasanya sampai 6 - 10 kali panen sampai dengan masa panen habis. Pemanenan tidak boleh terlambat, bila terlalu tua polong akan liat dan keras, kecuali bila dipersiapkan untuk produksi benih. 3 Pengendalian Hama dan Penyakit a. Lalat bibit. Kerusakan dan kehilangan hasil panen akibat serangan hama bisa mencapai 100% bila terserang lalat bibit kacang (Ophiomyia phaseoli) pada musim kemarau. Lalat bibit berukuran sangat kecil, warna coklat kemerahan dan biasanya terdapat pada bagian tanaman yang diserang. Tanda adanya serangan lalat bibit adalah timbulnya bintik-bintik putih di sekitar tulang daun pertama dan terbentuknya akar sekunder pada pangkal batang di atas permukaan tanah. Lalat bibit memakan bagian dalam daun, cabang, tangkai daun yang masih muda, termasuk polong muda. Selain menyerang tanaman kacang panjang, lalat bibit juga menyerang jenis kacang lainnya seperti kacang merah, buncis, kacang tunggak, kacang hijau, kedelai dll. Cara pengendalian dengan menggunakan insektisida sistemik seperti Curater, Furadan, Dharmafur (karbofuran) dicampurkan pada benih dan lubang tanam. Penyemprotan dengan Tamaron, Marshall dll sekali dalam seminggu. b. Ulat penggerek polong (Maruca testulalis). Larva ulat berwarna hijau terang dan kepala coklat. Larva ulat tersebut menyerang bunga, tunas dan polong muda. Tanaman inang lainnya adalah buncis, kedelai, kacang hijau dll.. Pengendalian dengan penyemprotan Tamaron, Sumicidin atau insektisida lain, sejak tanaman berbunga 1X seminggu. c. Ulat tanah (Agrotis ipsilon). Gejala serangan ditandai dengan terpotongnya pangkal batang tanaman sehingga tanaman mati muda (biasanya umur 2 - 5 minggu). Tanaman inang lainnya adalah kubis, tomat, kentang, cabe dan jagung. Pengendalian dengan penyemprotan insektisida Dursban di sekitar tanaman. Penyakit utama tanaman kacang panjang adalah antraknosa (cendawan Colletotrichum lindemutianum), bercak daun cercospora, penyakit yang menyerang akar (busuk akar Fusarium, Rhizoctonia solani) dll. a. Penyakit antraknose. Gejala serangan terlihat adanya luka (1 cm) berwarna hitam pada polong, kotiledon dan batang. Bila benih terserang menimbulkan gagal berkecambah atau rebah kecambah. Cara pengendalian, perlakuan benih dengan merendam dalam air hangat (55oC) selama 30 menit atau fungisida Klorotalonil, Fenarmol, Teriazole; nenanam varietas yang tahan, rotasi tanaman dan memusnahkan gulma. b. Penyakit Bercak Daun Cercospora. Bercak daun berwarna abu-abu kemerahan, pelukaan pada batang, daun, polong matang dan bagian tanaman yang mengalami penuaan/senecens. Penyakit berkembang cepat pada kondisi curah hujan tinggi, suhu rata-rata 26oC dab RH 60-80%. Serangan terberat pada saat pembuahan. Spora cendawan disebarkan oleh angin. Pengendalian dengan cara rotani tanaman bukan inang, sanitas lahan, benih bebas patogen, fungisida kontak Kloratolonil, Siproknazol, Hexakonazol, Fenarimol seminggu sekali. c. Penyakit Karat (Uromyces phaseoli). Cendawan tersebut hanya menyerang tanaman bagian atas, daun - bagian bawah permukaan daun, serangan pada buah sedikit. Gejala daun yang terserang berwarna putih dan muncul seperti bisul warna merah kecoklatan. Serangan meningkat pada kondisi optimum suhu 10-25oC. Pengendalian dengan rotasi tanaman non-legum, dan fungisida Klorotalonil (5 hari ekali pada saat menjelang pembungaan). d. Penyakit Busuk Akar Fusarium. Gejala serangan diawali akar berubah warna dari merah menjadi coklat tua, mengekrut dan kering, tanaman tumbuh kerdil dan daun menyempit dan tebal. Bila terjadi serangan, cabut tanaman dan membersihkan sisa tanaman yang terserang, dan sanitasi lahan agar tidak terlalu basah. e. Penyakit busuk akar Rhizoctonia mengakibatkan rebah kecambah, akar membusuk kering. Pengendalian dilakukan dengan perlakuan biji dengan Mancozeb, Maneb atau Klorotalonil; pergiliran tanaman, hindari penanaman pada suhu rendah, menggunakan pupuk kandang yang sudah matang, sanitasi lahan dan mencabut tanaman yang terserang. B BUNCIS Tanaman buncis merupakan tanaman daerah tropik-subtropik dan dapat beradaptasi sampai ketinggian lokasi 1.000 m dpl. Penanaman di dataran rendah biasanya pembentukan polong dan pengisian buah lambat dan kualitas rendah. Menurut sifat pertumbuhannya, tipe tanaman buncis yaitu tipe merambat dan tipe tegak/pendek. Buncis tegak mempunyai tinggi tanaman 30-45 cm, daun trifoliata, bunga warna putih/biru/ungu; polongnya panjang, lebar dan lurus; ukuran dan warna polong beragam. Polong buncis masih muda biasanya disayur dan biji kering digoreng sebagai camilan. • SYARAT TUMBUH Tanaman buncis membutuhkan struktur tanah gembur, drainase baik, pH netral (agar tidak mengganggu tumbuhnya bintil akar) dan kandungan bahan organik tinggi. • TEKNIK BUDIDAYA 1 Cara Penanaman dan Pemeliharaan Biji yang akan ditanam biasanya dicampur dulu dengan insektisida. Penanaman biasanya dilakukan pada bedengan. Jarak tanam untuk buncis tegak yaitu 40-50 cm (antar baris) x 30-40 cm (antar tanaman). Setiap lubang tanam diisi dengan 2-3 biji dan bila sudah tumbuh diberi ajir/turus. Pemberian pupuk dasar Urea/ZA, SP-36/TSP dan KCl dapat diberikan pada saat tanaman berumur 2-3 minggu setelah tanam. Tanaman buncis mulai berbunga pada umur 28 – 42 HST, waktu pengisian polong 23-50 hari, dan siap dipanen pada umur 65-150 HST. Frekuensi panen biasanya 3-4 hari sekali. Untuk produksi benih sebaiknya polong dipanen tua yaitu kulitnya berwarna coklat. 2 Hama dan Penyakit Tanaman Hama yang sering menyerang tanaman buncis adalah tungau merah (Tetranychus urticae), lalat polong (Melanagromyza phaseoli), ulat penggerek batang dan nematoda. Penyakit penting yaitu cacar selaput, cacar biasa, busuk akar, embun tepung, karat dan antraknosa. BAB 6 JAGUNG MANIS (SWEET CORN)  PENDAHULUAN Berbeda dengan jagung lokal atau hibrida, jagung manis biasanya juga digunakan sebagai sayur dan konsumsi segar (direbus dan dibakar). Budidaya jagng manis sebaiknya dilakukan setelah tanaman kacang-kacangan. Varietas jagung manis yang dibudidayakan biasanya jagung komposit (sebagian hibrida) sehingga petani dapat memproduksi benih sendiri (seleksi benih yang baik). Secara morfologi antara jagung manis dengan jagung biasa sulit dibedakan, beberapa sifat seperti warna bunga jantan (jagung manis: warna putih; jagung biasa: warna kuning kecoklatan); warna rambut (jagung manis: putih; jagung biasa: merah); kandungan gula jagung manis lebih banyak sehingga biji tua akan keriput; umur jagung manis lebih pendek/genjah; tongkol siap dipanen pada umur 60 - 70 HST. Jenis jagung manis yang beredar di Indonesia adalah Hawaian Super Sweet; Honey Bantam Series; Honey Pearl, White Knight dll. Selain jagung manis, jagung semi biasanya juga dipakai sebagai jagung sayur. Jagung semi dipanen pada saat tongkol masih muda dan ukurannya kecil (masih lunak, biji masih belum berisi). Wilayah sentra produksi jagung semi adalah Sukabumi, Cianjur, Bogor dan Malang.  SYARAT TUMBUH Teknik budidaya jagung manis hampir sama dengan budidaya jagung secara umum. Pertumbuhan optimal tanaman jagung manis membutuhkan tanah yang gembur, banyak mengandung bahan organik, drainase baik, tidak tergenang, tidak ada naungan. pH tanah optimal antara 5.5 - 7.0. Pada tanah masam (pH <5.0) dibutuhkan pemberian kapur 1 ton/ha/tahun. Suhu optimal untuk pertumbuhan tanaman jagung berkisar antara 21-30oC. Jagung merupakan tanaman yang tahan kekeringan, tetapi bila pada periode pembungaan, pembentukan dan pengisian buah terjadi kekurangan air maka ukuran tongkol mengecil dan pengisian buah tidak sempurna. • TEKNIK BUDIDAYA 1 Benih dan biji Bobot benih jagung manis lebih ringan dibanding jagung biasa (100 biji bobot 10 gram dan jagung biasa sekitar 27 gram). Benih jagung manis (komposit) dapat diproduksi sendiri melalui seleksi tongkol yang telah tua, dari tanaman yang sehat. Pengeringan tongkol dilakukan dengan cara dijemur langsung terkena sinar matahari atau disimpan di atas tungku/perapian dapur petani. Sedangkan jenis hibrida (hasil hibridisasi tipe Dent dan tipe Flint) hanya bisa diproduksi oleh pemulia jagung. Benih yang berasal dari hasil tanaman jagung manis hibrida sebelumnya mempunyai mutu dan produksi yang rendah. Kebutuhan benih tiap hektar mencapai 15 - 20 kg/ha dengan populasi tanaman 70.000 tanaman. Perlakuan benih jagung manis dengan merendam benih dalam larutan Ridomil (5 gram dalam 1 liter air - 5 g/l) selama 10-15 menit, ditujukan untuk mencegah penyakit bulai. 2 Cara Bertanam dan Pemeliharaan Pengolahan tanah dilakukan seperti pada budidaya jagung biasa, dengan cara dicangkul atau dibajak, kemudian perataan. Pencangkulan tanah dilakukan sedalam 30 cm, dibuat guludan tinggi 20 cm; jarak antar guludan 60 - 75 cm. Arah guludan sebaiknya arah Timur - Barat. Sepanjang guludan dibuat larikan lebar dan dalam 10 cm. Kemudian, pada larikan tsb ditaburkan pupuk kandang dengan dosis 5 - 10 ton/ha. Jarak tanam yang biasa digunakan adalah 80 x 25 cm atau 70 x 40 cm. Tiap lubang tanam diisi 2 - 3 biji dan diberi Furadan 3-G (dosis 20 kg/ha). Pada saat tanam, pemberian pupuk sbb: dosis 225 kg Urea/ha (pemupukan I) + 335 kg SP-36/ha dan 250 kg KCl/ha. Pada saat tanaman umur 4 - 5 minggu diberikan pemupukan susulan (II) Nitrogen dengan dosis 225 kg Urea/ha. Cara pemberian pupuk dapat melalui alur (di kiri/ kanan barisan tanaman) atau secara ditugal. Pemeliharaan tanaman dilakukan dengan penyulaman, penjarangan, penyiangan dan pembumbunan, pengendalian hama dan penyakit. Penyiraman dilakukan 2 - 3 hari sekali (bila tidak ada hujan). Pada tanaman berumur 3 minggu, penjarangan dilakukan hanya disisakan 1 tanaman saja (yang mempunyai pertumbuhan yang baik). Jagung manis siap dipanen pada umur 60 - 70 HST. Saat panen yang tepat yaitu bila rambut telah berwarna coklat dan tongkol terisi penuh. Panen sebaiknya pada pagi hari, bila dilakukan pada siang hari kandungan gula berkurang. Biji dipijit dengan kuku ibu jari, bila terjadi cipratan sari ke mata menandakan stadia yang tepat untuk panen. Pemetikan yang ditunda 2 - 3 hari akan menghasilkan jagung manis lebih keras dan kering, karena gula telah diubah menadi pati selama proses pemasakan buah. Sebaiknya jagung manis dikemas dalam plastik untuk mencegah kehilangan air, melindungi kerusakan secara mekanis dan memperpanjang kesegaran. 3 Hama dan Penyakit Hama penting tanaman jagung manis adalah ulat grayak Agrothis, lalat bibit, ulat tongkol dan penggerek batang, sedangkan penyakit penting adalah penyakit bulai, busuk daun dan kekurangan unsur hara. Hama ulat grayak (Agrothis sp). Ulat warna hitam kecoklatan. Gejala serangan pada tanaman umur 3 minggu: batang muda, basah dan akhirnya putus/mati. Serangan terjadi sore-malam hari dan siang hari sembunyi di sela tanaman atau gulma. Pengendalian dilakukan melalui: penyemprotan insektisida Dursban (2-3 ml tiap 1 liter air; untuk 1 ha tanaman perlu 500 liter). Lalat Bibit (Atherigona exigua). Gejala serangan adanya bekas gigitan pada daun, pucuk layu dan akhirnya mati. Serangan lalat bibit memuncak pada penanaman pada musim hujan.. Telur (warna putih, lonjong) diletakkan pada daun bagian bawah dan larva warna kuning (disebut belatung) menyerang tanaman. Pengendalian dilakukan dengan: penyemprotan Hostathion (insektisida kontak/racun lambung) dosis 2 cc/1 liter, volume semprot 100-400 liter/ha. Ulat tongkol (Heliothis armigera). Gejala serangan adanya bekas gigitan pada biji, pada tongkol terdapat terowongan bekas gigitan. Pengendalian dilakukan melalui: pemberian Furadan 3-G dalam lubang di sekitar tanaman (dosis 10-15 g/m2) pada saat tanaman berbunga; penyemprotan insektisida sistemik (Dimecron, Sevin, Diazinon, BHC dan Karbofuran; pembakaran dan pembenaman bahan tanaman; pengendalian dengan afid, kutu loncat dan kumbang. Hama Penggerek Batang (Sesamia inferens, Pyrausta sp). Gejala serangan ditandai: tanaman menjadi layu karena ulat menyerang kelopak daun, batang, tangkai malai dan bagian akar (ulat Sesamia); permukaan daun terdapat bintik warna putih, kotoran seperti serbuk gergaji, ujung batang patah, tulang daun dan merusak tongkol. Pengendalian dilakukan melalui: penyemprotaninsektisida Azodrin (sistemik, racun kontak dan lambung) dosis 30-40 cc/liter, volume semprot 400-600 liter/ha. Penyakit Bulai (penyebab: cendawan Sclerospora sp). Gejala yang timbul: pada tanaman muda menjadi kuning dan kaku, ujung daun meruncing dan permukaan daun bagian bawah terdapat konidia (lapisan tepung warna putih) dan pada tanaman dewasa terjadi garis klorosis berwarna kecoklatan pada daun tua. Pengendalian dilakukan melalui: desinfeksi benih dengan larutan Ridomil (dosis 5 gram dalam 1 liter air) selama 10 - 15 menit; eradikasi/pemusnahan tanaman yang diserang. Penyakit Hawar Daun (penyebab: cendawan Helminthosporium turcicum). Gejala serangan ditandai: bercak kecil warna hijau tua atau kelabu agak basah membesar seperti kumparan, akhirnya daun kering seperti terbakar. Serangan meningkat pada kondisi cuaca curah hujan tinggi, suhu rendah dan intensitas cahaya matahari yang kurang (biasanya di dataran tinggi). Pengendalian dilakukan melalui: perlakuan benih dengan Thiram, Karboxin; perendaman benih dalam air hangat (55oC) selama 20 menit; dan penyemprotan fungisida Mankozeb. Gejala kekurangan hara. Bila terjadi kekurangan Nitrogen tanaman cenderung kerdil, kurus dan daun warna hijau kekuningan, dan ujung daun bawah mati. Kekurangan Fosfat ditandai tanaman menjadi kerdil, daun warna ungu/merah muda, ujung daun berwana coklat gelap dan akhirnya mati. Bila berbuah tongkol tidak sempurna dan barisan biji tidak teratur. Kekurangan K ditandai dengan daun bawah ujungnya menguning dan mati, kemudian menjalar ke pinggir daun. Bila berbuah tongkol mengecil dan ujungnya runcing. BAB 7 TANAMAN OBAT Trend kembali ke alam (back to nature) menjadi salah satu faktor pendorong pengembangan teknik budidaya tanaman obat. Jenis komoditas yang dibudidayakan meliputi temulawak, lempuyang, jahe, lengkuas, kencur, temu hitam, bengle, kunyit, temu kunci dll. • PENDAHULUAN Jamu merupakan salah satu ramuan tradisional dari bahan baku tumbuhan/tanaman alami yang digunakan untuk perawatan kesehatan dan pengobatan. Dengan berkembangnya trend kembali ke alam (back to nature), kebutuhan bahan-bahan baku tumbuhan/tanaman alami tersebut semakin meningkat. Produk-produk herbal sebagian besar berasal dari Cina dan India. Potensi pengembangan produk-produk herbal di Indonesia masih terbuka luas, berkaitan dengan faktor alam hutan tropika basah yang kaya dengan sumberdaya genetis. • SYARAT TUMBUH Beberapa jenis tanaman obat tidak membutuhkan tempat tumbuh yang khusus. Dapat ditanam di lahan marjinal/kritis, di bawah tegakan pohon (ternaungi) atau secara terbuka – tergantung jenis komoditasnya. Dapat tumbuh baik pada tanah yang banyak mengandung humus (bahan organik), tekstur lempung-liat berpasir, gembur/remah, drainase baik dan tidak tergenang. • TEKNIK BUDIDAYA 1 Bibit Bibit tanaman obat biasanya diperoleh melalui rimpang atau anakan. Rimpang yang bertunas biasanya diiris melintang (2-3 tunas) dan diberi abu dapur, sekam atau kapur untuk menghindari infeksi jamur. Media pembibitan biasanya menggunakan campuran tanah dan kompos/pupuk kandang. Lama waktu pembibitan (sampai bertunas) berkisar antara 1 – 1.5 bulan. 2 Penyiapan Lahan Pengolahan tanah dilakukan 1 – 2 minggu sebelum tanam, dengan cara membalik tanah sedalam 25 - 35 cm dan menggemburkan. Bedengan dibuat dengan ukuran 100 – 120 cm dan tinggi 15 – 20 cm. Jarak antar bedengan dibuat 50 cm dan panjang bedengan sesuai dengan kondisi lahan. Pemberian pupuk organik/kandang dapat dilakukan pada saat pengolahan lahan, dengan cara dicampur merata (dosis 10 kg/m2 atau 10 – 15 ton/ha). Atau bisa juga dilakukan dengan pemberian pada lubang tanaman dengan dosis 0.5 – 1.0 kg per lubang tanaman. 3 Cara Bertanam dan Pemeliharaan Dalam budidaya tanaman obat, jarak tanam yang digunakan sebagai berikut: No Jenis Tanaman Obat Jarak Tanam Kondisi Agroklimat 1 Jahe (Zingiber officinale) 30-60 cm X 30-60 cm Tinggi tempat (TT): 200-600 m dpl Curah hujan (CH): 2.500-4.000 mm/th Kondisi lahan: terbuka 2 Kencur (Kaemferia galanga) 20 cm X 10-15 cm TT: 80 – 700 m dpl Kondisi lahan: sedikit naungan 3 Kunyit (Curcuma domestica) 40 cm X 60 cm CH: 2.000-4.000 mm/th Kondisi lahan: sedikit naungan 4 Lempuyang (Zingiber zerumbet) 30 cm X 80 cm TT: s/d 1.200 m dpl Kondisi lahan: naungan (hutan) 5 Lengkuas (Languas galanga) 30-60 cm X 60-90 cm TT: s/d 1.200 m dpl CH: 1.500 – 2.400 mm/th Kondisi lahan: terbuka - sedikit naungan 6 Temu giring (Curcuma heyneana) 45-60 cm X 60 cm TT: s/d 750 m dpl Kondisi lahan: sedikit naungan (tegakan sengon/HTI) 7 Temu hitam (Curcuma aeroginosa) 25 cm X 45 cm TT: s/d 1.000 m dpl CH: 900 – 1.250 mm/th Kondisi lahan: naungan/agroforestry 8 Temu lawak (Curcuma xanthorrhiza) 60 cm X 60 cm TT: s/d 1.500 m dpl CH: 1.500 – 4.000 mm/th Kondisi lahan: naungan & terbuka 9 Bengle (Zingiber purpureum) 7.5-10 cm X 10-15 cm TT: s/d 1.300 m dpl Kondisi lahan: terbuka-naungan Perawatan tanaman dilakukan dengan cara penyulaman (s/d 2 minggu setelah tanam), pemberian pupuk susulan (setiap 2 bulan), penyiangan dan pembumbunan (setiap bulan) dan pengendalian hama dan penyakit tanaman. Jenis hama tanaman obat seperti Ulat penggerek daun dapat dikendalikan dengan pestisida alami dari ekstrak biji mimba, daun sirsak atau akar tuba. Jenis penyakit tanaman obat biasanya jenis cendawan/fungi dapat dikendalikan dengan pestisida alami dari ekstrak cengkeh, sedangkan penyakit bakteri dapat dikendalikan dengan ekstrak daun/rimpang kencur dan umbi bawang putih. 4 Panen & Pascapanen Panen rimpang tanaman obat biasanya dipanen setelah berumur 9 – 12 bulan, namun ada yang menundanya sampai berumur 2 tahun. Beberapa jenis komoditas dapat dipanen muda seperti jahe. Hasil produksi rimpang biasanya dijual dalam bentuk segar. Untuk tujuan akhir produksi simplisia, perlu dilakukan proses pascapanen, sebagai berikut: (1) Penyortiran basah. Tujuannya untuk memisahkan kotoran atau bahan lain (tanah, rumput, akar yang rusak dll). (2) Pencucian. Tujuannya untuk menghilangkan kotoran yang melekat pada simplisia dan mengurangi mikroba pada simplisia (perlu digunakan air yang bersih). Proses pencucian dapat dilakukan dengan cara: (a) Perendaman bertingkat; (b) Penyemprotan; (c) Penyikatan. (3) Perajangan. Tujuannya untuk mempermudah proses pengeringan, pengemasan dan penyimpanan. Perajangan hanya dilakukan pada rimpang/simplisia yang tebal dan tidak lunak. Tebal irisan 5 – 7 mm. Bila terlalu tipis, kandungan minyaknya berkurang, sedang bila terlalu tebal akan mudah rusak/busuk. (4) Pengeringan. Pengeringan dapat dilakukan dengan penjemuran langsung di bawah sinar matahari (diletakkan di atas alas tikar/bambu) selama 4-5 hari atau pengeringan dengan oven. (5) Penyortiran kering. Tujuannya untuk memisahkan benda asing dan kotoran lainnya seperti akar, pasir dan tanah. (6) Pengemasan. Pengemasan simplisia sebaiknya menggunakan bahan yang bersih dan kering, tidak bocor, kuat, tidak beracun dan tidak bereaksi dengan bahan simplisia. Pada kemasan dituliskan Nama bahan, nama penghasil, berat bersih dan cara penyimpanan. (7) Penyimpanan. Sumber utama kerusakan simplisia adalah air, kelembaban udara, sinar matahari langsung dan hama seperti rayap, tikus dan kutu. Gudang penyimpanan harus bersih, berventilasi udara baik, suhu <30OC tidak terkontaminasi bahan lain dan bebas hama. BAB 8 TEKNIK HIDROPONIK Budidaya tanaman secara hidroponik (hydroponics) bersyarat padat modal, membutuhkan teknologi dan keterampilan mengelola yang tinggi. Namun, dapat disederhanakan untuk lahan terbatas (pekarangan) sebagai sumber sayuran segar untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari. H idroponik (Hydroponics) diartikan sebagai cara bercocok tanam tanpa menggunakan tanah sebagai media tanamnya atau bercocok tanam tanpa tanah. Hidroponik – berasal dari kata ‘hydro’ (air) dan ‘ponus’ (daya) – diartikan sebagai memberdayakan air – mengingat air berperan sebagai dasar pembangunan tubuh tanaman dan dalam proses fisiologi tanaman. Mengacu istilah hidroponik tersebut – budidaya tanaman dalam pot/wadah yang menggunakan air atau bahan porous lainnya (seperti pecahan genting, pasir, kerikil, gabus, rock-wool dll) termasuk teknik hidroponik. Tanaman yang dibudidayakan secara hidroponik dapat tumbuh dengan baik, jika daerah perakarannya memperoleh cukup udara, air dan unsur hara. Hal tersebut dapat dioenuhi jika dekomposisi akar yang mati oleh mikroorganisme berjalan lancar, pembuangan CO2 hasil respirasi akar dan mikroorganisme di daerah perakaran berjalan baik, suhu lingkungan terjaga, batang tanaman tertopang cukup kuat sehingga tanaman dapat tumbuh tegak dan bebas dari serangan hama dan penyakit tanaman (Suhardiyanto, 2002). Di Indonesia, telah berkembang teknik-teknik hidroponik seperti (a) hidroponik substrat, menggunakan media tanam yang steril seperti arang sekam, pasir dan serbuk sabut kelapa; (b) hidroponik NFT (nutrient film technique), lebih efisien karena tidak menggunakan substrat hanya aliran nutrien (unsur hara); (c) aeroponik, hidroponik dengan cara menyemburkan larutan hara dalam bentuk kabut pada perakaran tanaman; (d) hidroponik rakit apung (floating raft hydroponics). Beberapa kelebihan sistem hidroponik dibandingkan dengan budidaya pada media tanah, meliputi:  Pemeliharaan lebih praktis dan gangguan hama dan penyakit lebih terkontrol;  Penggunaan unsur hara (pupuk) lebih hemat (efisien);  Tanaman yang mati lebih mudah diganti dengan tanaman yang baru;  Tidak membutuhkan banyak tenaga, mengingat metode kerja yang lebih hemat;  Tanaman dapat tumbuh lebih pesat dengan keadaan yang lebih bersih dan tidak rusak;  Hasil produksi lebih kontinyu dan produktivitasnya lebih tinggi;  Harga jual produk hidroponik lebih tinggi;  Beberapa jenis tanaman dapat dibudidayakan di luar musimnya;  Tidak terganggu risiko banjir, erosi, kekeringan dan kondisi cuaca;  Dapat dilakukan pada lahan terbatas. A HIDROPONIK SUBSTRAT Hidroponik substrat tidak menggunakan air sebagai media, tetapi media padatan bukan tanah yang dapat menyerap atau menyediakan unsur hara (nutrisi), air dan oksigen serta mampu mendukung akar tanaman.  MEDIA Media yang digunakan, meliputi: pasir, serbuk gergaji, arang sekam, kompos, pupuk kandang, gambut dll. Wadah media biasanya berupa polibag (polybag) dengan ukuran bervariasi, antara 25 – 45 cm x 30 - 50 cm (tergantung jenis komoditas yang ditanam) atau plastik kemasan air mineral bekas. Kemampuan media menahan air tergantung ukuran media, bentuk dan porositasnya. Semakin kecil ukuran partikel semakin luas permukaan sehingga semakin besar kemampuan menahan air. Partikel yang tidak beraturan lebih banyak menyerap air dibandingkan yang berbentuk bulat teratur. Selain kemampuan menahan air, media juga harus mampu membuang air yang berlebih (drainase yang baik) dan media tidak mengandung racun (toksik). Substrat yang halus sebaiknya dihindari. Media serbuk gergaji kadang mengandung garam dapur (NaCl) untuk kayu yang pernah diletakkan di laut. Media batu apung dan pasir dari laut, biasanya kandungan CaCO3 sangat tinggi sehingga dapat mengikat Fe (besi), akibatnya tanaman kekurangan Fe (besi). Untuk media pasir, sebaiknya digunakan pasir gunung/vulkanis. Media/substrat sebaiknya bukan bahan yang empuk, mudah rusak, struktur dan ukuran partikel mengecil dan memadat. Kondisi tersebut mengakibatkan aerasi akar terganggu.  STERILISASI MEDIA/SUBSTRAT Sterilisasi substrat dilakukan dengan cara penguapan atau bahan kimia, agar dapat menghindari patogen dalam substrat. Bahan kimia yang digunakan, yaitu: batu apung pemutih biasa (Ca atau NaHClO3) atau HCl atau klorin dengan konsentrasi 10.000 ppm. Substrat direndam dalam larutan klorin selama 1.5 jam, kemudian dicuci dengan air tawar untuk menghilangkan klorin yang tersisa. Sebelum arang sekam digunakan sebagai media, sebaiknya agak dipadatkan, mengingat media tsb mudah ambles, dan drainase cepat-sangat cepat. Setelah pemadatan bagian bawah polibag, posisi polibag dapat tegak rata dan tidak mudah terguling. Kemudian media arang sekam disiram hingga airnya basah merata sampai ke bawah.  PENANAMAN Benih ditanam langsung di tengah-tengah polibag pada kedalaman 0,5 – 2 cm, tergantung jenis komoditas sayuran. Jika digunakan bibit, harus disesuaikan dengan umur atau ukuran tanaman yang sudah memenuhi persyaratan pemindahan tanaman.  IRIGASI Penyiraman larutan hara dengan konsentrasi tertentu dilakukan secara manual (dengan gayung atau gembor) dan sistem irigasi tetes dengan timer (pengatur waktu, misalnya tiap pukul 7, 9, 11, 13, 16 atau pukul 08, 12, 16, 21, 03 pagi). Penyiraman secara teratur mengakibatkan tanaman tumbuh dengan cepat. Penyiraman secara manual, pada awal pertumbuhan: setiap polibag disiram dengan larutan hara 100 ml (frekuensi 1-2 kali/hari). Jika tanaman membesar, tiap penyiraman sekitar 200 ml larutan hara dan frekuensi 2-3 kali/hari (tiap tanaman membutuhkan 1-1.5 liter larutan). Perhitungan larutan hara (nutrisi) biasanya disesuaikan dengan jenis komoditas yang ditanam, meliputi kelompok sayuran daun (pakchoy, sawi putih, caisim), sayuran buah (paprika, tomat, cabe dan timun), sayuran bunga (bunga kol, brokoli), sayuran batang dan daun (kailan, kangkung), dan sayuran umbi (bit, radish, lobak, wortel). Pada hidroponik di pekarangan yang biasa dibudidayakan adalah sayuran daun, rempah/bumbu seperti bawang daun, kemangi dan beberapa tanaman obat. B HIDROPONIK NFT (NUTRIENT FILM TECHNIQUE) Hidroponik NFT hanya menggunakan aliran air (nutrisi) sebagai medianya. Kelebihannya, tidak dibutuhkan air yang banyak, kadar oksigen terlarut dalam larutan hara cukup tinggi, pH mudah diatur dan lebih ringan sehingga dapat disangga dengan talang hujan rumah PVC berbentuk U.  INSTALASI NFT Rangka kayu digunakan sebagai penyangga talang (bed tanaman). Pada kegiatan agribisnis biasanya dipasang 3 – 4 buah talang PVC disambung menyatu (total panjangnya 12 m, tiap talang panjangnya 4 m, tinggi 12 cm dan lebar 11 cm), dan kedua ujungnya ditutup. Rangka kayu yang digunakan setinggi 40 cm, dengan kemiringan 5% atau perbedaan tinggi 5 cm untuk tiap 100 cm panjang. Aliran nutrisi dengan kemiringan talang PVC 5% membutuhkan debit 1.5 liter/menit, larutan mengalir ke ujung bawah, dengan tebal lapisan 3-4 mm – sehingga disebut film (lapisan tipis). Distribusi aliran nutrisi biasanya menggunakan tenaga pompa celup (submersible pump) secara terus-menerus. Pada kemiringan 5% tsb, aliran nutrisi tidak menimbulkan riak, dan berkesempatan menambah oksigen terlarut dari udara (menjadi 6-8 ppm). Sebagai penyangga tanaman digunakan styrofoam (sesuai ukuran lebar dan panjang talang, tebal 1.5 cm). Styrofoam tsb diganjal dengan batu split ukuran 2-3 cm, agar letak styrofoam tidak langsung di dasar talang (sehingga masih ada rongga udara di bawah styrofoam). Lubang tanam pada styrofoam dibuat dengan cara melubangi styrofoam setiap jarak 15 cm dengan diameter lubang 1.5 cm.  CARA PENANAMAN & JENIS KOMODITAS Cara penanaman: bibit yang telah berumur 2 minggu diletakkan dalam lubang tanam, bila perlu diganjal dengan busa atau rock-wool. Akar akan menyentuk dasar talang yang teraliri nutrisi sehingga tanaman tumbuh besar dan dalam waktu kurang 1 bulan siap dipanen. Pada teknik hidroponik NFT tsb, jenis komoditas yang disarankan adalah sayuran berumur pendek seperti pakchoy, caisim, lettuce, kailan dan sawi, bayam, kangkung. Sedangkan untuk komoditas tomat, paprika, timun, melon, semangka – membutuhkan bambu penyangga dan jarak tanam yang agak lebar sehingga tanaman tumbuh maksimal. Pada satu bedengan selebar 1 m, biasanya hanya diisi 2-3 baris talang dengan jarak antarbaris 40 cm. Selain bambu penyangga, dapat juga digunakan benang/tali kasur yang dililitkan ke atas sebagai penambat tanaman. C AEROPONIK Pada teknik aeroponik, larutan nutrisi disemprotkan dalam bentuk kabut (melalui sprinkler) pada perakaran tanaman, akar tanaman akan menangkap dan menyerap larutan nutrisi tsb untuk pertumbuhan tanaman.  INSTALASI AEROPONIK Teknik Pemasangan: 1. Rangka kayu/bambu didirikan sebagai penyangga bed tanaman, ukuran: tinggi 75 cm, lebar 1 m, panjang sesuai lahan (biasanya antara 10 – 20 m). Di atas bed dipasang plastik hitam (ukuran: lebar 180 cm, tebal 0.15 mm) membentuk huruf V, bagian tepi dijepit dengan bambu. 2. Pada dasar plastik dipasang selang PE (polyethylene) diameter 19 mm dan telah dipasangi dengan sprinkler spray jet dengan jarak 75 cm (radius pancaran sprinkler lingkaran penuh 125 cm, dan flowrate 50 liter/jam). Larutan nutrisi akan disemprotkan melalui sprinkler dengan debit 50 liter/jam, ukuran butiran 0.5 mm. Ke dua ujung selang PE disambungkan dengan kolam penampung nutrisi. Di dalam kolam tsb dipasang pompa bertekanan tinggi (2-3 Atm, kapasitas 200 liter/menit, berjalan terus-menerus). 3. Di atas plastik hitam diletakkan styrofoam (ukuran: tebal 3 cm, ukuran 1 x 1 m) yang telah diberi lubang tanam 15 x 15 cm, diameter lubang 1.5 cm berbentuk kerucut terbalik.  CARA PENANAMAN & JENIS KOMODITAS Cara penanaman: pangkal batang bibit dibungkus rock-woll atau busa, kemudian dimasukkan ke dalam lubang tanam. Akar dibiarkan menjuntai ke bawah. Semprotan larutan nutrisi harus mencapai perakaran, sehingga dalam waktu <1 bulan tanaman siap panen. Jenis komoditas yang ditanam maksimal mempunyai bobot biomass 3 kg/m2 agar styrofoam tidak melengkung dan patah. Tanaman yang disarankan adalah jenis sayuran daun seperti pakchoy, caysim, kailan, selada (lettuce), bayam dan kangkung. Jenis komoditas lainnya seperti tomat, paprika, timun – karena mempunyai biomass besar, tidak disarankan dibudidayakan secara aeroponik. D HIDROPONIK RAKIT APUNG (Floating Raft Hydroponics) Hidroponik rakit apung lebih sederhana dibanding teknik hidroponik lainnya. Prinsip kerjanya adalah menanam tanaman di atas larutan nutrisi yang ditampung dalam wadah/kolam. Penggunaan pompa hanya untuk memasukkan larutan nutrisi ke dalam kolam dan aerator. Tidak membutuhkan peralatan prinkler, selang PE, timer, filter dll. Namun membutuhkan kolam/wadah yang tidak bocor.  PEMBUATAN KOLAM Biasanya kolam yang digunakan untuk hidroponik rakit apung berukuran: panjang 10 m, lebar 2 m dan kedalaman 40 cm (30 cm terletak di dalam tanah dan 10 cm di atas permukaan tanah). Bagian permukaan kolam ditutup dengan sytrofoam (biasanya ukuran 1 m x 1 m) dan diberi lubang tanam (diamter 1.5 cm) dengan jarak tanam/lubang 15 x 15 cm. Diusahakan seluruh kolam tertutup styrofoam agar tidak tumbuh ganggang di dalam larutan. Larutan nutrisi diisikan ke dalam kolam sampai setinggi 30 cm (panjang maksimal perakaran). Aerator dipasangkan dengan ujung selang diberi airstone untuk memberikan oksigen ke dalam perakaran. (kondisi optimal: 6-8 ppm Oksigen terlarut).  CARA PENANAMAN DAN JENIS KOMODITAS Bibit tanaman yang telah siap pindah (sesuai umur pindah tanam) dimasukkan ke dalam tanam dan dibiarkan akarnya menjuntai ke dalam larutan nutrisi. Bibit biasanya dibungkus busa/rock-wool. Dengan lebar kolam 2 m diharapkan memudahkan penanaman, perawatan dan pemanenan. Jenis komoditas yang disarankan, yaitu: sayuran daun yang ringan seperti pakchoy, caysim, kailan, selada (lettuce), kangkung dan bayam. Sayuran buah seperti tomat, paprika atau timun, karena bobot biomass berat tidak disarankan. E NUTRISI TANAMAN (LARUTAN HARA) Kebutuhan unsur hara tanaman pada teknik hidroponik sama seperti budidaya tanaman lainnya, yaitu (a) unsur hara makro (jumlah kebutuhannya banyak), seperti C, H, O, N, P, K, Ca, Mg dan S; (b) unsur hara mikro (jumlah kebutuhannya sedikit) seperti Fe, Mn, Cu, Zn, B dan Mo. Sumber-sumber unsur hara makro dan mikro biasanya dalam bentuk garam (jenis yang dipakai: technical grade, jangan bahan kimia pro-analisis, harganya lebih mahal), kemudian diramu sesuai kebutuhan tanaman yang dibudidayakan. Tabel 6.1. Kandungan Unsur Hara Makro dalam Garam-garam No Garam N – NO3 (%) N – NH4 (%) P (%) K (%) Ca (%) Mg (%) S (%) 1 Kalsium amonium nitrat 5Ca(NO3)2.NH4NO3.10 H20 14,2 1,3 18,5 2 Kalsium nitrat Ca(NO3)2.4H2O 11,8 17 3 Kalium nitrat, KNO3 14,0 39,0 4 Monokalium fosfat KH2PO4 22,8 28,7 5 Kalium sulfat, K2SO4 44,8 18,0 6 Monoamonium sulfat (NH4)H2PO4 12,0 27,0 7 Amonium sulfat (NH4)2SO4 21,0 24,0 8 Amonium nitrat, NH4NO3 17,5 17,5 9 Magnesium sulfat MgSO4.7H2O 9,7 13,0 Tabel 6.2. Kandungan Unsur Hara Mikro dalam Garam-garam No Garam-garam Kandungan Hara 1 Fe-chelate, Fe-EDTA 6%, 10%, 12%, 13.2% Fe 2 Mangan Sulfat, MnSO4.4H2O 25% Mn 3 Tembaga Sulfat, CuSO4.5H2O 26% Cu 4 Seng Sulfat, ZnSO4.7H2O 23% Zn 5 Asam Borat, H3BO3 18% B 6 Borax, Na2B4O7 10.8% B 7 Amonium heptamolibdat, (NH4)6Mo7O24.4H2O 50% Mo 8 Natrium Molibdat, Na2MoO4.2H2O 40% Mo Pemberian nutrisi (unsur hara) pada teknik hidroponik dalam bentuk larutan nutrisi. Ramuan larutan nutrisi disesuaikan dengan jenis komoditas agar mencapai penampilan, bobot dan cita rasa yang prima. Untuk setiap kelompok tanaman dibuat dua macam pekatan - larutan pekat (biang) yaitu Pekatan A dan Pekatan B. Pekatan A dan B tidak boleh dicampurkan langsung, karena akan terjadi pengendapan garam-garam sehingga tidak dapat diserap tanaman. Setiap Pekatan dibuat dari ramuan bahan-bahan kimia untuk 5 liter pekatan. Pada Tabel 6.3. ditunjukkan bahan yang digunakan untuk membuat Pekatan A, bahan-bahan dicampur, kemudian ditambahkan air sampai mencapai 5 liter, dikocok sampai merata. Demikian juga untuk pembuatan Pekatan B. Cara membuat larutan nutrisi: Dalam wadah (kapasitas 1000 liter) diisi air sebanyak 990 liter, dituangkan Pekatan A (5 liter) dan diaduk merata. Kemudian dituangkan lagi Pekatan B (5 liter), diaduk merata – terjadi pengenceran larutan 1:100. Tabel 6.3. Cara Pembuatan Pekatan A dan B Sesuai Kelompok Sayuran No Kelompok Sayuran Pekatan A Pekatan B 1 Sayuran daun: bayam, pakchoy, caysim, selada  965 g Kalsium nitrat  600 g Kalium nitrat  38 g Fe-EDTA 13,2%Fe  335 g Kalium dihidro fosfat  120 g Amonium sulfat  20 g Kalium sulfat  650 g Magnesium sulfat  14 g campuran unsur mikro lainnya 2 Sayuran batang dan daun: kailan, kangkung  1.100 g Kalsium nitrat  530 g Kalium nitrat  38 g Fe-EDTA 13,2%Fe  335 g Kalium dihidro fosfat  55 g Amonium sulfat  140 g Kalium sulfat  790 g Magnesium sulfat  14 g campuran unsur mikro lainnya 3 Sayuran bunga: brokoli, bunga kol  1.100 g Kalsium nitrat  575 g Kalium nitrat  38 g Fe-EDTA 13,2%Fe  560 g Kalium dihidro fosfat  30 g Amonium sulfat  75 g Kalium sulfat  1.050 g Magnesium sulfat  14 g campuran unsur mikro lainnya 4 Sayuran buah: tomat, paprika, timun, terung, melon, semangka  1.380 g Kalsium nitrat  300 g Kalium nitrat  38 g Fe-EDTA 13,2%Fe  780 g Kalium dihidro fosfat  300 g Kalium sulfat  1.050 g Magnesium sulfat  14 g campuran unsur mikro lainnya Larutan nutrisi yang akan diaplikasikan pada teknik hidroponik dibutuhkan persyaratan, meliputi:  Derajat kemasaman (pH) optimal: 5,5 - 6,5 (optimal pH 6,0). Pada pH tersebut, semua unsur hara berada dalam kondisi kelarutan yang tinggi dan mudah diserap akar.  Konsentrasi Hara EC (electro-conductivity). Angka EC 1.0 setara dengan 700 ppm padatan terlarut. Pada persemaian digunakan EC 1.0 – 1.2; Sayuran daun EC 1.5 – 2,5; Sayuran buah (fase vegetatif) EC 2.0 – 2.5, fase peralihan-generatif EC 3.0 – 3.5. Pada nilai EC yang tinggi, larutan nutrisi terlalu jenuh dan akar tidak mampu menyerap, selain itu dapat mengakibatkan keracunan hara dan sel-sel jaringan mengalami plasmolisis.  Konsentrasi Oksigen terlarut (Dissolved oxygen). Pada kondisi normal yaitu suhu udara 25OC, konsentrasi oksigen terlarut dapat mencapai 10 ppm pada lapisan teratas. Pada suhu udara 20OC dapat mencapai 12 ppm, sedangkan pada suhu udara 30OC turun menjadi 6 ppm. Pada lokasi dataran tinggi, sumber air yang dingin mempunyai kadar oksigen terlarut tinggi. Kondisi tsb menguntungkan karena produktivitas sayuran lebih tinggi, cita rasa dan penampilannya lebih segar. Untuk dataran rendah, suhu air lebih tinggi sehingga kelarutan oksigen lebih rendah, mengakibatkan gejala layu (karena respirasi). Sehingga untuk budidaya tanaman secara hidroponik di dataran rendah membutuhkan aerator, terutama pada hidroponik rakit apung. F KONDISI LINGKUNGAN Pada budidaya tanaman secara hidroponik membutuhkan kondisi lingkungan yang mendukung produksi tanaman, meliputi: 1 CURAH HUJAN: Kondisi geografi dan ketinggian tempat biasanya mempunyai ciri curah hujan tersendiri – termasuk pola distribusi curah hujan sepanjang tahun. Pada musim hujan, tingkat kelembaban udara meningkat memungkinkan terjadinya serangan jamur/cendawan dan bakteri sehingga dapat merusak kondisi pertanaman. Pada musim kemarau, tanaman kekurangan air sehingga menjadi kerdil dan cenderung lebih liat (banyak mengandung serat), warna daun kekuningan, sehingga penampilan sayuran kurang menarik. 2 KELEMBABAN UDARA: Kondisi optimal kelembaban udara sekitar 70%. Bila kelembaban udara >70% (tinggi) dapat mengakibatkan daya serap akar berkurang, sedangkan <70% penguapan (evapotranspirasi) terlalu cepat dan penyerapan air oleh akar tidak berimbang mengakibatkan tanaman layu. Tepi daun tanaman gosong (warna hitam, menunjukkan akumulasi/konsentrasi hara), biasanya pada selada. Pencegahannya dilakukan dengan menjalankan sprinkler otomatis hingga mencapai kelembaban udara (Rh 70%). 3 CAHAYA: Pada kondisi cuaca yang mendung mengakibatkan fotosintesis terganggu, sehingga pasokan bahan baku untuk pembentukan protein, sel, jaringan dan organ berkurang. Akibatnya: tanaman nampak kurus, jarak antar ruas lebar dan warna daun pucat (gejala etiolasi), tanaman rentan terserang penyakit dan mudah layu bila tersimpan dalam gerai supermarket. 4 SUHU UDARA: Daerah tropika, budidaya tanaman secara hidroponik biasanya dilakukan pada daerah yang mempunyai suhu udara optimal untuk pertumbuhan tanaman yaitu 25-27OC pada siang hari dan 18OC pada malam hari. Pada suhu udara yang tinggi (>30OC), reaksi kimia berjalan cepat, sedangkan pada suhu udara yang rendah, reaksi kimia berjalan lambat. Pengusaha hidroponik biasanya memilih tempat produksi di dataran tinggi, yang memiliki suhu udara optimal tsb. Pengembangan untuk dararan rendah, biasanya dilakukan dengan pembuatan rumah kaca (green-house), dengan catatan suhu udara <30OC pada siang hari dan 24OC malam hari. 5 ANGIN: Angin berfungsi membawa udara yang panas dan membawa udara segar yang mengandung CO2 sehingga fotosintesis berjalan lancar. Angin dengan kecepatan tinggi dan membawa udara panas akan mengakibatkan tanaman layu walau akar tercelup dalam larutan nutrisi.  RUMAH KACA (GREEN-HOUSE) Pada agribisnis secara hidroponik biasanya digunakan rumah kaca (green-house) sebagai tempat produksi., sehingga budidaya tanaman lebih mudah dikontrol dan menghindari kerugian-kerugian karena faktor lingkungan yang tidak mendukung pertumbuhan tanaman. Rumah kaca dapat terbuat dari plastik UV, net maupun kassa. Bentuk rumah kaca: Piggy back system (sistem punggung babi), yaitu pada bagian atap, dipasang atap kecil di atas atap besar sehingga memungkinkan keluarnya udara panas. Ketinggian rongga 5 – 6 m dari lantai (catatan: hama tidak terbang >3 m). Atap: Plastik UV yang biasanya digunakan sebagai bahan atap adalah Plastik UV 6% (keawetan sekitar 2 tahun). Sedangkan kualitas lebih tinggi seperti Plastik UV 9% mencapai 3 tahun dan Plastik UV 12% mencapai 4 tahun, namun harganya lebih mahal. Atap dari net, biasanya dipakai net plastik hitam dengan peredaman cahaya 65% calculated shade dan 35% cahaya masuk. Dengan jumlah cahaya 35% dapat berlangsung fotosintesis dengan baik. Namun bila terjadi hujan, lingkungan menjadi becek dan lembab, air hujan masuk ke wadah nutrisi, dan serangan penyakit pada tanaman. Atap dari kassa, biasanya digunakan kassa warna putih transparan sehingga sinar matahari masuk, hanya sedikit teredam. Ukuran kassa yang digunakan 60 mesh (berarti: ada 60 lubang setiap cm2). Butiran air hujan yang jatuh pada kassa akan becah menjadi butiran lebih kecil dan turun menjadi kabut dan tidak merusak tanaman. Kelemahan hampir sama dengan atap dari net dan bila intensitas cahaya terlalu tinggi akan merusak tanaman. Dinding Sisi & Pintu: Dinding sisi rumah kaca biasanya dipasang kassa, yang berfungsi menghalangi hama masuk ke dalam rumah kaca. Pemasangannya dari lantai hingga mencapai atap. Demikian juga pintu terbuat dari bahan kassa. Lampiran 1: PEMBUATAN KOMPOS 1 Pembuatan lubang  Ukuran lubang: dalam 0.5 m, panjang & lebar 1.5 m;  Tanah lapisan atas dipisahkan dengan lapisan bawah. 2 Bahan-bahan kompos dimasukkan ke dalam lubang:  Daun-daun segar yang telah dipotong/dicincang;  Abu dapur/kapur;  Kotoran ternak dan tanah lapisan atas;  Untuk membantu proses pertukaran udara, masukkan bambu utuh (yang dilubangi bagian tengah dan sisi-sisinya);  Tumpukan bahan-bahan tsb diinjak-injak dan kemudian disiram air;  Agar tetap lembab, bagian permukaan ditutup dengan batang pisang dan disiram (bila tidak hujan, pagi atau sore hari), lubang bambu diisi dengan air. 3 Pembalikan Kompos:  Setelah 3 minggu, tumpukan kompos dibongkar dan dibalik. Lapisan bawah dipindahkan ke lapisan atas dan sebaliknya;  Pembalikan dilakukan setiap bulan. 4 Kompos sudah matang/jadi (3 bulan) Ciri-ciri kompos yang matang/jadi: warna hitam/coklat, gembur/remah dan tidak tampak bentuk aslinya. Lampiran 2: CARA PEMBUATAN BOKASHI (PUPUK ORGANIK) Bahan yang digunakan: • Jerami atau kotoran hewan (sapi, kambing dll) – bobot 100 kg (sekitar 20 ember sedang, isi @ 5 kg) • Dedak – bobot 6,25 kg (sekitar 1,5 ember sedang) • Sekam – bobot 12,5 kg (sekitar 2,5 ember) • Gula pasir – 50 gram (sekitar 10 sendok makan) • EM-4 – 125 cc (sekitar 0,5 gelas) • Air secukupnya (sekitar 5 liter, 1 ember) Cara Pembuatan: (a) Larutkan EM-4, gula pasir ke dalam air; (b) Jerami, sekam dan dedak dicampur sampai merata; (c) Siramkan larutan EM-4 tsb, secara perlahan-lahan dan merata (sampai kandungan air 30%). Bila adonan dikepal tangan, air tidak keluar dan bila dilepas adonan mekar kembali; (d) Adonan kemudian digundukkan di atas ubin/alas yang kering (tinggi 15 - 20 cm), kemudian ditutup dengan karung goni/plastik selama 3 - 4 hari; (e) Pertahankan suhu gundukan adonan 40-50oC. Bila suhu >50oC buka penutup dan gundukan dibalik dan ditutup kembali. Suhu dicek kembali setiap 5 jam; (f) Setelah 4 hari, fermentasi telah selesai dan siap digunakan (tandanya suhu adonan tidak hangat/panas seperti suhu badan normal). Lampiran 3: CARA PEMBUATAN PUPUK ORGANIK CAIR & PADAT A BAHAN DAN ALAT NO DRUM A (UKURAN 250 LITER) DRUM B (UKURAN 135 LITER) 1 2 3 4 5 6 7 8 50 kg kotoran sapi (segar) 170 liter air bersih 3 kg gula (molasse) 10 kg dedak padi 500 gram ragi roti (1 liter EM-4) 1 botol besar (isi: 2 liter) 2 m selang plastik (1 – 1,5”) Lem silikon (sealer silicon) 30 kg kotoran sapi (segar) 65 liter air bersih 1,8 kg gula (molasse) 5 kg dedak padi 300 gram ragi roti (0,5 liter EM-4) 1 botol besar (isi 2 liter) 2 m selang plastik (1 – 1,5”) Lem silikon (sealer silicon) B PROSEDUR PENCAMPURAN BAHAN 1. Isilah air ke dalam drum (>25% dari volumenya); 2. Masukkan kotoran sapi segar dan aduk sampai menjadi suspensi yang homogen; 3. Masukkan gula/molasse secara perlahan-lahan dan terus diaduk; 4. Masukkan dedak padi secara perlahan dan terus diaduk selama 20-30 menit; 5. Larutkan ragi roti dalam air hangat; kemudian masukkan ke dalam drum sambil tetap diaduk (atau larutan EM-4); 6. Tambahkan air ke dalam drum, sisakan sebagian kecil ruangan/volume (untuk menampung akumulasi gas hasil fermentasi); FERMENTASI 7. Pada tutup drum dibuat lubang untuk selang dan berikan lem agar pinggirannya tidak bocor (supaya udara tidak masuk); 8. Tutup drum dengan erat/ketat (ikat dengan karet ban), agar udara tidak masuk (supaya tercipta kondisi anaerobik); 9. Isilah botol besar dengan air dan masukkan ujung selang ke dalam botol tsb; 10. Letakkan drum tsb pada tempat yang teduh/terlindung selama 10 – 15 hari. PENYARINGAN & PENGEMASAN 11. Sebelum digunakan, drum digoyang, kemudian pupuk cair dikeluarkan; 12. Pupuk cair disaring dahulu (dengan kain saring); 13. Pupuk cair dikemas dalam botol untuk dipasarkan; atau langsung digunakan dengan dosis yang dianjurkan 10-15% volume air dengan interval 15 hari; 14. Bagian yang padat (substrat) diolah menjadi pupuk organik padatan dengan cara dikeringkan (sampai kondisi kering angin), dikemas dalam kantong plastik siap dipasarkan. Lampiran 4: TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN HORTIKULTURA No Jenis Komoditas Jarak tanam Cara penanaman Umur bibit siap dipindah (hari) Jumlah benih/ ha Jumlah benih / 1 g benih 1 Cabe Rapat: 50-60 X 40-50 cm Lebar: 40-45 X 75 cm Semai 28-35 300 gr 180 2 Tomat 60-80 X 40-50 cm Semai 28 – 35 100 gr 300 3 Terong Bedeng: 70-80 X 60-70 cm Tanpa bedeng: 75-90 X 50-60 cm Semai 21 – 28 80 gr 250 4 Timun 100 X 50 cm Langsung - 1,5 kg 40 5 Melon 80 X 40 cm Semai 7 - 14 1 kg 40 6 Semangka 1,5 – 2 m X 1 m Semai 14 – 21 1 kg 14 7 Bayam Alur barisan: Jarak alur 30 cm Langsung 20 kg 3.000 8 Sawi, Pakchoy Alur barisan: Jarak alur 30 cm Bedeng: 20 X 30 cm Langsung Semai 7 – 10 1 kg 300 9 Kangkung 25-30 X 20-25 cm Langsung 20 kg 25 10 Kacang panjang 60-90 X 20-40 cm Langsung 20 kg 4 11 Buncis 40-50 X 30-40 cm Langsung 20 kg 4 12 Jagung manis 80 X 25 cm 70 X 40 cm Langsung 20 kg 7 Lampiran 5: DOSIS DAN CARA PEMUPUKAN BUDIDAYA TANAMAN HORTIKULTURA No Jenis Komoditas Waktu Pemupukan Jenis & Dosis Pupuk 1 Cabe Saat tanam  Pupuk kandang: 0,5 – 0,8 kg/lubang  Urea: 50 kg/ha  ZA: 150 kg/ha  SP-36: 300 kg/ha  KCl: 50 kg/ha 1 Bulan setelah tanam  Urea: 50 kg/ha  ZA: 150 kg/ha  KCl: 50 kg/ha 2 Bulan setelah tanam  Urea: 50 kg/ha  ZA: 150 kg/ha  KCl: 50 kg/ha 2 Tomat Saat tanam  Pupuk kandang: 0,5 – 0,8 kg/lubang  Urea: 125 kg/ha atau ZA: 250 kg/ha  SP-36: 300 kg/ha  KCl: 100 kg/ha Umur 20-25 hari setelah tanam (HST)  Urea: 125 kg/ha atau ZA: 250 kg/ha  KCl: 100 kg/ha 3 Terong Saat tanam  Pupuk kandang: 0,5 – 0,8 kg/lubang Umur 14 HST  10 gram campuran pupuk / tanaman Campuran pupuk: Urea: 300 kg/ha ; ZA: 150 kg/ha; ZK atau KCl: 150 kg/ha Umur 1 – 1,5 bulan  10 gram campuran pupuk / tanaman 4 Timun Saat tanam  Pupuk kandang: 0,5 – 0,8 kg/lubang  SP-36: 120 kg/ha Umur 2 minggu  Urea: 90 kg/ha  KCl: 50 kg/ha Umur 4 minggu  Urea: 90 kg/ha  KCl: 50 kg/ha 5 Melon Saat tanam  Pupuk kandang: 1 kg/lubang tanam  30 gram campuran Urea+SP+KCl / lubang tanaman Umur 15 HST  20 gram campuran Urea+KCl / tanaman Umur 30 HST  20 gram campuran Urea+KCl / tanaman Umur 45 HST  20 gram campuran Urea+KCl / tanaman 6 Semangka Saat tanam  Pupuk kandang: 2 - 3 kg/lubang tanam  35 gram campuran pupuk ZA+SP+KCl / lubang tanaman Campuran pupuk: ZA 70 kg/ha; SP-36: 140 kg/ha; KCl: 140 kg/ha Umur 30 HST  Urea atau ZA: 7 gram/tanaman Umur 50 HST  Urea atau ZA: 7 gram/tanaman 7 Bayam, Sawi, Pakchoy, Kangkung Saat tanam  Pupuk kandang 2 kg/m2  Urea: 150 kg/ha  SP-36: 200 kg/ha  KCl: 100 kg/ha Umur 2 minggu  Urea: 150 kg/ha 8 Kacang panjang Saat tanam  Pupuk kandang: 1 - 2 kg/lubang tanam  Urea: 50 kg/ha  SP-36: 100 kg/ha  KCl: 50 kg/ha Umur 3 minggu  Urea: 50 kg/ha 9 Buncis Saat tanam  10 gram campuran pupuk / tanaman Campuran pupuk: ZA: 200 kg/ha; SP-36: 300 kg/ha; KCl: 100 kg/ha Umur 3 minggu  Urea: 50 kg/ha atau ZA: 100 kg/ha 10 Jagung manis Saat tanam  Pupuk kandang: 1 - 2 kg/lubang tanam  Urea: 225 kg/ha  SP-36: 335 kg/ha  KCl: 250 kg/ha Umur 4 – 5 minggu  Urea: 225 kg/ha Lampiran 6: PESTISIDA ALAMI 1. Serangga Hama (Secara Umum) Bahan Cara Pembuatan  Daun mimba (8 kg)  Lengkuas (6 kg)  Serai (6 kg)  Deterjen/sabun colek (20 g)  Air (20 liter) Daun mimba, lengkuas dan serai ditumbuk halus. Seluruh bahan diaduk merata dalam air 20 liter, kemudian diendapkan 24 jam. Kemudian larutan disaring dengan kain halus dan diencerkan kembali dengan 60 liter air (untuk dosis penyemprotan 1 ha). 2. Wereng coklat Bahan Cara Pembuatan  Daun sirsak (1 genggam)  Rimpang jringau (1 genggam)  Bawang putih (20 siung)  Deterjen/sabun colek (20 g)  Air (20 liter) Daun sirsak, rimpang jringau dan bawang putih ditumbuk halus. Seluruh bahan diaduk merata dalam air 20 liter, kemudian diendapkan 2 hari (48 jam). Kemudian larutan disaring dengan kain halus. Untuk penyemprotan, setiap 1 liter diencerkan dengan 10-15 liter air. 3. Wereng coklat, Penggerek Batang dan Nematoda Bahan Cara Pembuatan  Biji mimba (50 g)  Alkohol (10 cc)  Air (1 liter) Biji mimba ditumbuk halus dan diaduk dengan alkohol, kemudian diencerkan dengan 1 liter air, kemudian diendapkan 24 jam. Kemudian larutan disaring dengan kain halus dan diencerkan kembali dengan 10-15 liter air (untuk dosis penyemprotan 1 ha). 4. Thrips (Tanaman Cabe) Bahan Cara Pembuatan  Daun sirsak (50-100 lembar)  Deterjen/sabun colek (20 g)  Air (5 liter) Daun sirsak ditumbuk halus, dicampur air dan sabun colek, diaduk merata. Kemudian direndapkan 12-24 jam. Kemudian larutan disaring dengan kain halus. Untuk penyemprotan, setiap 1 liter diencerkan dengan 10-15 liter air. 5. Belalang & Ulat Bahan Cara Pembuatan  Daun sirsak (50 lembar)  Daun tembakau (1 genggam)  Deterjen/sabun colek (20 g)  Air (20 liter) Daun sirsak dan tembakau ditumbuk halus, dicampur air dan sabun colek, diaduk merata. Kemudian diendapkan 12-24 jam. Kemudian larutan disaring dengan kain halus, kemudian diencerkan dengan air 50 – 60 liter (siap digunakan). 6. Hama tanaman Bawang Merah Bahan Cara Pembuatan  Daun mimba (1 kg)  Umbi gadung racun (2 buah)  Deterjen/sabun colek (20 g)  Air (20 liter) Daun mimba dan umbi gadung ditumbuk halus, dicampur air dan sabun colek, diaduk merata. Kemudian diendapkan 12-24 jam. Kemudian larutan disaring dengan kain halus, kemudian diencerkan dengan air 50 – 60 liter (siap digunakan). 7. Alat Perangkap Lalat buah Alat perangkap lalat buah dibuat dari botol air bekas. Kemudian zat pemikat (atraktan) diteteskan pada kapas yang digantung dalam botol atau dilarutkan dalam air. Zat pemikat alami yang dapat digunakan adalah daun selasih dan melaleuca. Daun selasih/melaleuca (10 gram) ditumbuk halus dengan air (100 cc) dan dicampur deterjen (1 gram). Larutan diendapkan 12-24 jam, kemudian disaring. Larutan hasil saringan dimasukkan dalam botol air kemudian digantung pada pohon buah-buahan. 8. Tikus (Rodentia) Bahan Cara Pembuatan  Umbi gadung racun/KB (1 kg)  Dedak padi (10 kg)  Tepung ikan (1 ons)  Kemiri/zat pemikat (sedikit)  Air (sedikit) Umbi gadung dikupas dan ditumbuk halus, dicampur semua bahan dan dibuat bentuk pelet kering (Perbandingan 1:10). Kemudian pelet ditebarkan di tempat hidup tikus. Daya ramuan umbi gadung KB untuk memandulkan tikus, dan umbi gadung racun untuk meracuni tikus. 9. Penyakit Fungi/Jamur, Bakteri dan Nematoda Cara 1: Bahan Cara Pembuatan  Biji mimba (20 g) atau daun mimba (50 g)  Deterjen (1 g)  Air (1 liter) Biji/daun mimba ditumbuk halus dan ditambahkan air dan deterjen, kemudian diaduk merata, kemudian diendapkan 12-24 jam. Kemudian larutan disaring dengan kain halus dan diencerkan kembali dengan 10-15 liter air. Bila akan diaplikasikan ke dalam tanah, larutan langsung disiramkan ke daerah perakaran. Cara 2: Bahan Cara Pembuatan  Daun tembakau (limbah) 200 kg Daun tembakau dihancurkan menjadi serpihan kecil-kecil, kemudian dibenamkan di daerah perakaran tanaman. 10. Penyakit Jamur Fusarium oxysporum (penyakit busuk batang pada tanaman panili) Bahan Cara Pembuatan  Daun cengkeh (50-100 g) Daun cengkeh dihancurkan menjadi serpihan kecil-kecil, kemudian dibenamkan di daerah perakaran tanaman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar